Pagi itu saya pergi ke Pengadilan Negeri Bandung untuk mengikuti sidang tilang lalu lintas. Ya, lima belas hari sebelumnya saat pulang menunaikan tugas ke KPPBC TMP A Bandung, saya mendapat surat tilang atas dua pasal yang saya langgar dalam berlalu lintas (yang ini jangan ditiru ya!). Terbilang pagi saya datang sehingga dapat nomor urut penyerahan bukti tilang nomor 15 dan bisu duduk di ruang tunggu di deretan depan. Peserta sidang terus berdatangan hingga ruangan nyaris penuh.

Di antara yang datang terlihat seorang bapak agak tua yang berpakaian polisi. Awalnya saya mengira beliau sedang mengantarkan limpahan berkas tilang karena waktu itu banyak peserta sidang yang diminta datang langsung ke mapolres karena berkas tilangnya belum masuk PN. Namun ternyata setelah ikut antri nomor, sang polisi lalu duduk di deretan paling belakang ruang tunggu peserta tilang. “Eh, polisi itu ternyata mau sidang juga ya?” bisikku pada teman yang menemani ke PN.

Tiba saat dipanggil satu per satu memasuki ruang sidang. Saya masuk dan duduk di kursi terdepan menunggu giliran dipanggil ke kursi pesakitan. Satu per satu menyelesaikan sidangnya hingga kursi di sebelah saya kosong ditinggal orangnya maju dan kemudian diisi yang lainnya. Kebetulan yang duduk di sebelah saya kemudian adalah sang polantas tadi. Langsung saya berseloroh, “polisi masih ikut sidang juga pak?”. Sambil tersenyum beliau menjawab, “iya mas, anak saya sih yang kena, saya mewakili sidangnya aja. Maklum mas belum punya SIM, biayanya belum cukup untuk bikin SIM. Maklum belum punya kerjaan, biarin deh punya penghasilan sendiri dan bikin SIM sendiri.

Belum sempat saya bertanya lanjut, nama saya keburu dipanggil panitera untuk maju, terputuslah perbincangan dan pertemuan itu. Namun jawaban sang polisi tadi masih terngiang di telinga. Mungkin beliau, yang seorang polisi, membiarkan anaknya berkendara tanpa SIM memang bukan suatu contoh baik, tetapi ada beberapa hal baik lain yang patut kita catat dari polisi ini.

Kiranya tak perlu saya uraikan satu per satu kebaikan itu ya, saya rasa pembaca semua sudah cukup cerdas untuk dapat mengambil pelajarannya. Yang jelas berbeda dengan cerita dan pengalaman yang dulu pernah saya dengar/alami:

  1. Dulu, dengan kenalan polisi kita bisa menyelesaikan sidang tilang lebih cepat tanpa antri lama-lama;
  2. Dulu, tetangga polisi aja (apalagi anaknya) saat akan bikin SIM tinggal bilang aja ke sang polisi bahkan ketika belum cukup umur dan biaya;
  3. Dulu, saat ketemu operasi zebra, teman saya kerap berbisik, “saya anaknya polisi bla..bla..bla...”, dan urusan beres;
  4. Dulu, ketika teman saya kena tilang dengan santai bilang, “tenang ga usah sidang, nanti STNK-nya diambilin Bapakku (polisi)!”.
  5. Dulu, jangankan uang untuk “bikin” SIM, puluhan juta buat masuk polisi juga dikasih, biar anaknya ga nganggur lagi…
  6. Dll.

Semoga makin banyak polisi seperti ini di negeri ini.