Berikut ini beberapa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan klasik seputar asuransi syariah, yang saya upayakan menyajikan se-firm mungkin sehingga dapat memberikan keyakinan pada anda.

Pertanyaan #1: apa sih bedanya?
Ini pertanyaan bagus karena minimal bagi anda yang mempunyai pertanyaan tersebut berarti anda minimal mempunyai dugaan bahwa asuransi syariah memang “berbeda” dengan asuransi biasanya (konvensional). Lalu apa sih bedanya?

Jawaban paling pesimis adalah “paling beda kata syariah-nya doang”. Inipun benar, karena bagaimanapun sebuah diferensiasi juga perlu identitas pembeda. Namun bagi anda yang berpaham “apalah arti sebuah nama!”, tentu jawaban tersebut sama sekali tidak memberikan jawaban yang memadai. Jawaban berikutnya adalah asuransi konvensional diharamkan karena eksisnya unsur riba dan judi. Right, riba dan judi emang secara jelas diharamkan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Namun, mungkin bagi sebagian orang alasan ini belum cukup untuk melawan realitas dunia dewasa ini, apalagi bagi anda yang non muslim. Dan memang eksisnya unsur tersebut dalam asuransi konvensional hanya merupakan efek ikutan dari permasalahan mendasar berikut ini…

Nah, alasan mendasar tersebut adalah terkait ketidakjelasan akad dalam asuransi konvensional. Pertama, pernahkah anda tahu jenis akad asuransi konvesional, transaksi komersil atau charity (sosial)? Walaupun biasanya tidak disebut dalam polis, saya pastikan bukan transaksi charity. Kenapa? Karena premi yang anda bayarkan akan dicatat sebagai pendapatan perusahaan asuransi dan menjadi aset perusahaan. Sebaliknya jika anda mengajukan klaim, maka perusahaan asuransi akan mencatat sebagai beban. Yah, bicara untung-rugi sudah pastilah itu transaksi komersil.

Next, dalam syariah islam bicara transaksi komersil terbagi dalam dua kategori, yaitu percampuran (kerjasama/joint bisnis) dan pertukaran (exchange). Kembali, meskipun tidak disebut dalam polis bisa dipastikan asuransi bukan transaksi kerjasama, soalnya nasabah tidak pernah ikut “memiliki” perusahaan dan mendapatkan pembagian laba perusahaan. So, dengan demikian transaksi dalam asuransi konvensional tergolong transaksi pertukaran atau katakanlah jual beli, sebagaimana juga istilah yang sering dipakai dalam berasuransi, yaitu membeli polis asuransi.

Next, pertukaran dalam syariah islam dipersyarakan adanya kejelasan dan kesetaraan antara kontribusi dan kompensasi. Misalnya, anda memiliki uang sebesar Rp 5 juta per bulan, jika kemampuan mencicil anda sebanyak 20 kali maka anda akan mendapatkan mobil seharga Rp 100 juta,  jika kemampuan anda 40 kali maka mendapatkan mobil seharga Rp 200 juta, dan seterusnya. Emang seharusnya begitu kan? Fair dan sejalan dengan akal sehat kan?

Nah, bagaimana jika tidak seperti itu? Aneh bin tidak logis kan? Anda tentu juga akan protes, kan? Tapi itulah yang terjadi pada asuransi konvensional. Transaksinya sih jual beli, tapi kesetaraan kontribusi – kompensasinya tidak jelas. Anda bisa saja membayar premi Rp 50 juta, tetapi karena syarat tertentu tidak terjadi, maka anda tidak mendapatkan kompensasi sepeserpun. Atau anda baru membayar premi Rp 1 juta, tapi kemudian anda mendapatkan klaim senilai Rp 1 milyar. Ketidakjelasan inilah yang dilarang syariat, yang dari ketidakjelasan tersebut lahir problem berikutnya, yaitu judi. Bukankah kondisi tersebut serupa dengan ketika seseorang membeli kupon berseri 2 digit angka seharga seribu rupiah, yang ketika  angka 2 digit tersebut keluar undian maka dia akan memperoleh Rp 60 ribu, dan sebaliknya akan hangus jika yang keluar adalah 2 digit angka yang lain?

Well, mungkin sebagian dari kita akan melanjutkan pertanyaan #2, “Lha, bukankah memang berasuransi agar dengan kemampuan kontribusi yang sedikit itu, suatu saat jika terjadi musibah, kita bisa mendapatkan kompensasi yang memadai (lebih besar)?”. Correctly, dengan pertanyaan tersebut sebenarnya kita telah mengakui bahwa transaksi asuransi kita maksudkan sebagai mekanisme gotong-royong alias “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Dan inilah yang sedang diupayakan dalam asuransi syariah, mengembalikan sesuatu pada nature-nya. Jika yang kita maksud itu transaksi sosial, ya akadnya dengan akad sosial dong!

Caranya? Ya, ganti saja akad jual beli yang tidak jelas tadi dengan akad tolong-menolong (ta’awun/tabarru’), di mana premi yang dibayarkan telah diikhlaskan untuk dihibahkan kepada sesama peserta. Dengan siapa akadnya? Ya, tentu saja dengan sesama peserta. Sedangkan perusahaan asuransi hanya bertindak sebagai kuasa yang mewakili dan menghubungkan sesama peserta dalam “berhibah”, mengelola dana tabarru’ berikut risikonya, dan menyalurkan dana kepada peserta yang terkena musibah. Dana yang kita bayarkan kepada dan menjadi pendapatan perusahaan hanyalah fee atas jasa kuasa perwakilan tersebut. Sedangkan dana tabarru’ akan disimpan dalam rekening tabarru’ yang merupakan milik semua peserta dan bukan merupakan pendapatan maupun aset perusahaan. Tidak percaya? Coba lihat contoh akad dari sebuah polis asuransi syariah berikut ini:

spajs_2

Hayoo, iya kan asuransi syariah berbeda! Tidak sekedar beda nama, yang bagi sebagian orang bukanlah hal yang penting. Dan tidak sekedar eksisnya riba dan judi, yang bisa dikesampingkan oleh anda yang tidak cukup kuat iman terhadap pengharaman riba dan judi. Namun perbedaan asuransi syariah menyangkut logika ekonomi yang sangat mendasar dan universal, yang seharusnya bisa diterima oleh siapapun.

Pertanyaan #3: Rugi dong jika preminya hangus?

Pertanyaan ini tidak hanya ditanyakan oleh pemegang polis asuransi syariah, tetapi juga asuransi konvensional. Untuk konvensional mungkin memang pantas anda berpikir rugi karena transaksi anda berakad jual beli. Namun, layakkah anda berpikir serupa untuk asuransi syariah? Bukankah telah jelas akadnya hibah yang merupakan salah satu jenis sedekah sunah? Selayaknya saat kita bersedekah, pernahkah kita berpikir rugi? Dan bukankah itu peluang pahala berlipat ganda jika kita ikhlas? Coba kita lihat lagi contoh akad polis asuransi lainnya di bawah ini:

spajs_1

Biar tambah yakin perhatikan analogi berikut. Pernahkah anda membayar iuran dana pralaya (kematian) RT? Lalu pernahkah anda merasa rugi ketika iuran tersebut? Pastinya tidak, karena tentu anda telah mengikhlaskan iuran tersebut sebagai bentuk tolong-menolong jika ada warga yang terkena musibah. Dan pastinya karena anda lebih memilih pahala sedekah daripada iuran anda kembali, kan? Nah, ini juga sebuah bentuk “asuransi kecil” , hanya beda skala aja akan?

Misalnya, di RT warga sejumlah 40 orang mengumpulkan iuran masing-masing Rp 200 ribu/tahun, maka bisa “dikembalikan” hanya kepada warga yang terkena musibah senilai Rp 4 juta, jika dalam tahun tersebut jumlah warga yang meninggal sebanyak 2 orang. Bedanya perusahaan asuransi yang mungkin bisa mengumpulkan 1 juta orang menjadi peserta asuransi, tentunya akan bisa “mengembalikan” kepada peserta yang terkena musibah sebesar Rp 100 juta, jika diperkirakan terdapat 2.000 klaim meninggal. Hanya beda skala selebihnya sama, ikhlasnya tentunya juga harus sama dong!

So, Mari Berasuransi Syariah.

Banner-IIC-Blog-187x300