Lebaran tahun lalu karena alasan tertentu saya tidak bisa mudik ke kampung, padahal masih memiliki sisa cuti tahunan yang cukup banyak. Selalu ada hikmah tentunya, saya malah bisa memanfaatkan cuti untuk i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Saya beri’tikaf di masjid dekat kontrakan rumah di perbatasan Kebayoran Lama – Pondok Aren. Ada banyak hal yang saya peroleh dari i’tikaf, baik spiritual maupun sosial, juga baik yang senang maupun yang sedih. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi sesuatu yang saya anggap menyedihkan.

Memasuki hari ke-29, Panitia Ziswaf masjid menjadwalkan pembagian hasil pengumpulan Ziswaf kepada para mustahik. Hingga pukul 16.30 pembagian masih dilayani, meskipun awalnya dijadwalkan pukul 14.00 hingga waktu asar saja. Waktu itu saya sedang santai di teras depan masjid, ketika, seorang ibu berjalan memasuki halaman masjid dari pintu samping masjid. Bersamaan juga dari arah pintu depan halaman masjid berlari seorang anak kecil kira-kira 3-4 tahun umurnya. Ternyata dia adalah anak si ibu tersebut yang kebetulan sedang bermain di depan masjid, yang akhirnya tidak diajak masuk karena tidak memakai sandal.

Hal pertama yang mengejutkan saya adalah ketika si ibu berjalan keluar dari dalam masjid seraya memasukkan amplop ke dalam saku bajunya. Sang anak yang menunggu di luar langsung memberi sambutan dengan berkata, “Mak, ke H*****i (nama swalayan terdekat), yuk!“. Saya terkejut dengan daya nalar anak ini. Sekecil itu sudah tahu kalau Ibunya keluar dari dalam masjid membawa amplop berisi uang. Dan saya cukup prihatin, sekecil itu sudah bisa menyimpulkan kalau punya uang asyiknya ya langsung jajan ke swalayan.

Meskipun memang anak-anak pasti suka jajan, tetapi melihat segenap ekspresinya tetap saja ini adalah pola hidup konsumtif yang terlalu dini. Bukan salah si anak tentunya, karena dia hanyalah produk lingkungannya. Ada dua kemungkinan, pertama, keseharian keluarga anak ini mungkin penghasilan hari ini untuk makan hari ini. Sehingga yang dilihat si anak adalah begitu dapat uang langsung belanja. Jika benar kemungkinan ini, agak melegakan meskipun kita tetap harus prihatin dengan fenomena kemiskinannya. Namun, memperhatikan referensi swalayan yang disebutkan si anak, saya menjadi tidak yakin itu terjadi karena semata-mata kemungkinan pertama. Ataukah kemungkinan kedua, keseharian lingkungan anak ini adalah masyarakat konsumtif yang ketika ada sedikit uang langsung ke shopping center?

Keterkejutan saya tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu sang itu menolak permintaan sang anak dan bergegas pulang, sang anak kembali berlari ke depan bermain di halaman bawah masjid. Sesaat kemudian terlihat sebuah mobil mengambil puter balik di halaman tersebut. Apa yang dilakukan bocah 3 tahunan itu? Dari jarak 40-an meter, saya bisa dengan jelas melihat bahasa tubuh dan mendengar seluruh perkataannya. Dengan mahirnya dia melipat dan melambai-lambaikan masing-masing lengannya, seraya berkata “trus..kanan…trus...!“. Begitu mobil telah berputar sempurna, si anak berlari ke samping kaca sopir, seraya menengadahkan tangan memungut upah jasa. AllahuAkbar, kembali keprihatinan saya memuncak. Anak sekecil itu sudah tahu kalau ada mobil berhenti, belok atau putar balik di manapun dapat dimanfaatkan sebagai peluang mendapatkan uang dengan cara yang mudah.

Ini bukan persoalan naluri bisnis si anak, tetapi lebih ke pikiran singkat mencari uang. Kembali ini bukan salah si anak, melainkan lingkungan lah yang telah membentuknya sedini ini. Semua pasti tahu, di kota metropolitan Jakarta ini, kegiatan “polantas mandiri” ini dapat ditemui hampir setiap belokan atau putaran. Sebagian memang bermanfaat bagi warga, tetapi tidak jarang yang agak mengganggu dan terkesan “iseng-iseng berhadiah”. Dan tampaknya yang terakhir inilah yang sehari-hari dipelajari oleh si anak tersebut, sehingga ketika melihat ada mobil hendak putar balik, kontan nalurinya itu muncul. Jika ini benar, saya sangat khawatir jika beberapa tahun ke depan anak itu akan berkeliling toko/warung tiap sore dengan membawa kencrengan atau mini tape, memakai, berdandan dan berdendang layaknya wanita. Ini karena pemandangan ini lah yang setiap sore disaksikan anak-anak di seputaran Jakarta sekarang, para laki-laki perkasa yang dengan mudah mendapatkan uang dengan bergaya seperti di atas.

Semoga tidak!! Semoga tidak!! Semoga tidak!! Amiiinn!!