Senyum-senyum sendiri, itulah reaksi saya ketika teringat masa kecil waktu pertama-pertama belajar puasa. Waktu itu bulan Ramadhan tahun 1992 (kalau tidak salah hitung, berarti tahun 1413 H) adalah Ramadhan pertama kali saya puasa. Awalnya coba-coba mau poso bedhug (puasa sampai adzan dzuhur) saja, maklum waktu itu baru kelas 1 SD. Eh, ternyata sampai dzuhur masih kuat sehingga coba diterusin sampai Maghrib. Alhamdulillah hari pertama sukses puasa sehari penuh. Hari kedua pun berjalan serupa dengan hari pertama, berhasil puasa sehari penuh.

Bagaimana dengan hari ketiganya? Seperti biasa, dini hari bangun bersama keluarga untuk makan sahur. Hari itu bertepatan dengan hari libur (mungkin hari minggu), kali ini setelah subuh kita tidak siap-siap ke sekolah. Pagi-pagi kita sudah keluar rumah, berkumpul dengan teman-teman untuk menikmati udara pagi pelosok desa Ponorogo dan bermain-main. Sekitar jam 08 pagi, kita yang lagi asik-asiknya bermain, dipanggil beramai-ramai oleh Mbah Inem tetangga sebelah rumah saya. Berlarian kita masuk ke halaman si Embah dan sesampai di sana kita disodori satu nampan brondong jagung yang manis. Ya, namanya anak-anak ada manisan gratis langsung saja kami serbu. Saya dan mas Yudi, yang sebenarnya sedang puasa, juga tidak mau kalah.

Hap..happ…, langsung saja beberapa potong brondong kami lahap, hingga tidaaaaaakkkk!, “Mas Yudi, bukannya kita lagi puasa?!” teriakku seketika menghentikan makan. Kami pun sejenak kebingungan bagaimana ini, kemudian kami berdiskusi. Kami teringat pelajaran waktu ngaji pak ustadz pernah bilang, “Kalau puasa terus lupa, ya harus diterusin lagi sampai habis.” Dengan polosnya kami menafsirkan pelajaran pak Ustadz, kami menyimpulkan bahwa saya dan mas Yudi harus menghabiskan sisa brondong jatah kami.

Maka mantaplah kami untuk menghabiskan brondong jatah kami hingga perut kami kenyang. Dalam pikiran saya, “Asyiiikk..enakan lupa ya kalau puasa, malah jadi kenyang dehh!” Sore harinya saya dengan sangat antusias menceritakan pengalaman tadi kepada kakak dan juga pak ustadz. Jadilah saya menjadi bahan tertawaan orang-orang, hingga akhirnya kami pun mendapatkan penjelasan dari pak ustadz bahwa yang dimaksud diteruskan sampai habis itu adalah begitu ingat seketika makannya dihentikan dan puasanya yang diteruskan sampai habis waktunya (maghrib). Jadi faham deh, hehehe….!!

Lucunya pengalaman ternyata berulang Ramadhan tahun depannya, meskipun dari awal sudah hati-hati jangan sampai lupa lagi. Lagi-lagi hari ketiga, jam 10-an pagi tiba-tiba saya teringat bahwa pepaya yang saya simpan di sela-sela tumpukan kayu bakar sudah waktunya matang. Langsung saja bergegas menuju lokasi dan saya mendapati pepayanya pas matang-matangnya. Tanpa pikir panjang pepaya saya belah dan makan dengan lahapnya, hingga habis separuh saya baru ingat bahwa saya sedang puasa. Cuma bedanya dengan tahun sebelumnya, kali ini saya sudah faham bahwa yang seharusnya adalah makannya berhenti dan puasanya lanjut. Bahkan seandainya bisa, yang sudah masuk perut pun ingin saya muntahkan, hehehe…!

Begitu lah pengalaman puasa pertama saya. Kalau kamu?

* Gambar diambil dari http://radensomad.com/