Ini adalah kisah tentang dua orang pemuda yang baru berusia  20-30 tahunan yang memiliki berbagai persamaan dan perbedaan. Persamaannya adalah keduanya sama-sama alumni STAN Jakarta. Kemudian keduanya sama-sama ditugaskan sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Terus, keduanya sama-sama sudah jadi jutawan meskipun baru bekerja dalam hitungan kurang dari 10 tahun. Terakhir keduanya juga akhirnya harus melepas pekerjaannya sebagai PNS di Ditjen Pajak.

Lha, bedanya apa? Ini bedanya, ane ambil dari http://www.iswandibanna.com yang beliau ambil dari kaltimpost:

ALUMNI STAN DENGAN OMSET 300 JUTA SEBULAN. FANTASTIK!

Nugrohadi Yuwono, pria kelahiran Semarang, 28 Januari 1986 lalu, kini menekuni bisnis minuman kopi di Samarinda. Tamatan D3 Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta jurusan perpajakan, rela meletakkan jabatanya sebagai PNS di kantor perpajakan Samarinda.

“Hal itu merupakan wujud dari totalitas saya menjalankan usaha kopi ini,” ucapnya ditemui  di café Djoeragan Kopi (Djurkop) miliknya.

Nugi—sapaan akrab Nugrohadi Yuwono—pengusaha muda yang membawa tren ngopi  sejak Februari 2009 lalu, di Samarinda. Ide tersebut dicetusnya kaetika melihat bisnis yang ada di Samarinda masih biasa, dan belum ada yang membuka kafé Kopi. Awalnya Nugi membuka usahanya di Jalan Juanda, dengan penyewa halaman parkir bekas kantor yang tidak terpakai di Jalan Juanda Samarinda. Pada halaman parkir seluas 500 meter persegi tersebut Djurkop membuka warung berkonsep lesehan dengan kapasitas 26 meja. Dengan modal awal Rp 90 juta, hasil dari gabungan beberapa rekan. Dengan omset per bulan mencapai Rp 60 juta-an.

Melihat bisnisnya begitu potensial, bahan untuk dua minggu, habis dalam 1 minggu. Akhirnya  Nugi memutuskan mengembangkan bisnisnya, dengan meminjam modal dari berbagai pihak. Empat bulan setelah itu, tepatnya Juni 2009 Djurkop dibuka dengan wajah baru. Di atas tanah seluas 1.400 meter, Djurkop mampu melayani ratusan pelanggan dengan kapasitas 72 meja, dengan jumlah pekerja sebanyak 50 orang. Dengan biaya operasional Rp 150 juta omset meningkat hingga Rp 300 juta sebulan.

Usaha yang tergolong muda ini menurutnya masih banyak memerlukan perubahan, terutama dalam segi pelayanan. “Kali ini Djurkop memperbaiki pelayanan dengan menghadirkan sistem PDA, setiap customer dimodali 1 PDA yang langsung terhubung ke dapur masing-masing tenang agar semakin cepat,” tambahnya. Untuk sistem terbaru dan pertama di Kalimantan itu Nugi mengeluarkan puluhan juta, dan semua itu dilakukanya demi kelangsungan perusahaanya.

Kegagalan dalam bisnis menurutnya bukan sebuah hal yang perlu diratapi berlarut-larut, melainkan motivasi untuk mencapai keberhasilan yang seharusnya bisa dicapai. Sebagai pengusaha muda, Nugi berhasil membuka lapangan pekerjaan di lingkungannya. Selain itu dia juga membuka kesempatan investasi bagi siapa saja yang mau bekerjasama, dengan sistem waralaba.

Nugi memberikan saran, “Jangan malu dalam memulai sebuah usaha, praktek merupakan hal yang baik dalam sebuah pembelajaran. sering berbagi informasi dengan senior yang berpengalaman, yang pasti harus optimis dan berfikir positif,” tambahnya. Perlu diketahui, Nugi sejak kecil memang bercita-cita menjadi pengusaha. Saat SMA sudah mulai berusaha dengan berjualan tiket tahun baru, dan saat kuliah dia berjualan sepatu dan baju. Hingga sekarang Nugi menjabat sebagai direktur PT Djoeragan Mulia Sejahtera. Dari bisnisnya selama dua tahun ini selain materi banyak hal yang dia dapat, “yang terpenting adalah ilmu yang sangat mahal menurut saya, kemudian teman-teman yang banyak,” tutupnya.

Trus bedanya dengan Gayus??? Dah pada tahu kan? Semua media sudah menceritakannya, kan?!