Belakangan ramai sekali perdebatan tentang kepergian Gubernur Sumbar Irwan Prayitno ke Jerman di tengah-tengah masa tanggap darurat Bencana Gempa dan Tsunami yang melanda Kepulauan Mentawai. Sosiolog Imam Prasojo dalam perbincangan di MetroTV sampai mengatakan sudah kehabisan kata-kata untuk dapat memahami langkah Irwan Prayitno, yang sebenarnya dikenalnya sebagai sosok yang peduli, responsif dan cerdas. Demikian juga berbagai kritik dan kecaman lainnya. Namun, kali ini saya menampilkan justru pandangan yang sebaliknya dari orang-orang yang setiap hari meliput kegiatan sang Gubernur. Selanjutnya, ya terserah anda bagaimana menilainya:

1. SETELAH TSUNAMI MENTAWAI: Pejabat Sipil dan Militer yang Kelelahan

PADANG — Mentawai telah memberi kita sebuah tembang baru yang pilu. Sekaligus memberi kita ruang untuk perasaan dan pengetahuan. Semuanya makin sekarang.
Keprihatinan meluas. Ada yang bertindak, ada yang berkoar. Ada yang diam, ada yang tak peduli.
Tsunami di sana, merupakan yang tercepat di dunia. Sekejap saja, monster itu langsung menyebar maut. Mentawai jadi berita dunia.
Lalu pada Senin (1/11) saya terbang ke Mentawai bersama Gubernur Irwan Prayitno. Saya melihat garut kelelahan di wajahnya. Ketika saya postingkan foto Irwan dan saya di atas helikopter ke facebook, teman-teman mengomentarinya. Antara lain, mereka bertanya, “Kenapa wajah gubernur terlihat lelah.” Yang lelah bukan hanya gubernur, tapi juga wagub serta Danrem dan bupati Kepulauan Mentawai.
Menurut seorang dokter kepada saya sekitar 6 tahun silam, jika dokter bedah habis melakukan operasi berat pada pasien, maka ia harus istirahat sehari dua, karena kalau tidak berdampak pada jiwanya.
Di dunia wartawan, jika usai melakukan liputan berat seperti ke Mentawai, boleh istirahat sehari dua. Tak istirahat juga tak apa, tapi harus mau mencari suasana enjoy, hiburlah dirimu. Itulah sebabnya kenapa antara lain, dokter dan wartawan suka karaoke. Sesekali ke Jakarta, he he he….
Hiburlah diri, agar tidak stres. Kalau wartawan tak suka menghibur dirinya, maka kabarnya orang lain akan salah melulu di matanya. Dia saja yang benar.
Menurut saya, gubernur memang harus istirahat barang sehari dua. Kalau tidak ia akan sakit kuning. Sejak dilantik, ia seperti mobil putus rem saja. Teman-teman wartawan peliput di kantor gubernur menjadi saksinya. Lasak benar, berjalan saja maunya. Tiap sebentar ke daerah. Mungkin karena baru menjabat.
Gempa dan tsunami
Akan halnya gempa 7,2 SR yang menimbulkan tsunami di Mentawai terjadi pada Senin malam. Padang panik. Warga menuju ke ketinggian di bawah guyuran gerimis. Pada saat yang sama, Gubernur Irwan Prayitno terlihat berkeliling kota memantau suasana.
“Pak Gubernur kaliliang kota,” kata wartawan Singgalang, Adi Hazwar kepada saya, malam itu. Saya tak hirau benar, sebab saya punya protap sendiri kalau gempa datang. Begitu gempa, saya lari dengan mobil atau dibonceng teman, sampai ke depan pasar Lapai. Di sana saya parkir, memantau suasana.
Setengah jam atau lebih saya kembali ke kantor. Atau ke Simpang Haru, parkir sesudah lampu merah. Aman, balik lagi. Kenapa saya harus pergi? Saya menghindari kemungkinan tsunami yang datang tak terdeteksi. Sirene tak bisa diharapkan, waktu latihan pekak telinga dibuatnya. Datang yang sesungguhnya, sirene itu anok.
Kenapa Lapai labih favorit, karena sesampai di sana, berarti tak ada jembatan yang akan patah atau ambruk akibat gempa. Selanjutnya tinggal jalan kaki ke Ampang. Saya takut kalau jembatan patah, tak ada jalan keluar lagi dari pusat kota.
Gubernur ke Jerman menjadi janggal bagi sebagian orang, wajar saja bagi sebagian lainnya. Yang tak wajar, rakyat tidak peduli.
Dia di Jerman Jumat (5/11) dan besok siangnya kembali ke Indonesia.
“Ambo hanyo 1,5 hari di Jerman, sayang peluang investasi tidak diambil, urusan gempa oleh Wagub,” Irwan berkirim SMS kepada saya, kemarin.
Menurut agendanya, Irwan ke Jerman bersama enam gubernur. Ke sana Irwan mengurus investasi bidang infrastruktur. Semoga saja, bisa mengurus bouy sekalian, yaitu alat pendeteksi tsunami.
Menurut Ketua DPD Irman Gusman, kepergian Irwan ke sana, untuk kepentingan Sumbar.
Dari segi, “gubernur lelah,” wajar ia rehat sehari dua. Kalau pelesiran, menurut dia, semua negara Eropa sudah dijelajahinya selama ia menjadi anggota DPR. “Sekarang untuk investasi, agendanya padat, saya mohon pengertian,” kata dia lagi.
Saya kira Gubernur Irwan bukan orang kurang akal. Ia telah memertimbangan segala hal. Tapi, itu tadi, hak orang pula untuk sinis dan setuju atas perjalanannya ke Jerman. Antara lain, itulah risiko pilihan sekaligus risiko seorang pemimpin. Akan dipuji sekaligus akan dikirik.
Yang menarik justru aktivitasnya sejak gempa 26 Oktober 2010. Senin malam keliling kota, Selasa rapat koordinasi, karena ternyata Mentawai dilanda tsunami. Rabu Wapres Boediono datang dan ditemani Irwan terbang ke Mentawai. Wapres pulang, Irwan tinggal. Kamis giliran Presiden SBY yang datang ke Mentawai. SBY pulang siang, Irwan pulang malam. Begitu sampai di Padang, rapat dan langsung jumpa pers.
Jumat menemani SBY. Irwan bergabung dengan Wagub Muslim Kasim yang baru pulang dari luar negeri. Segera rapat dengan Pangdam Bukit Barisan. Sabtu sibuk lagi bersama Wagub mengurus bencana. Wagub terbang ke Mentawai.
Minggu Irwan ke daerah, kalau tak salah Payakumbuh. Senin (1/11) terbang ke Mentawai bersama saya dan teman-teman. Selasa ke Payakumbuh meresmikan sekolah. Selasa menerima Menteri Fadel Muhammad. Rabu terbang ke Jerman.
Wagub
Wagub di Mentawai pada Sabtu (30/10). Pulang 3 Nobember. Empat hari di sana. Muslim sempat menemani Ketua PMI Jusuf Kalla yang dua hari pula di sana.
Empat hari tak ganti baju, AC/DC. Nyaris bau bada badannya. Kepala Dinas Prasjal dan Tarkim Sumbar Doddy Ruswandi setali tiga uang. Apa boleh buat.
Ketika pada Senin (1/11) pagi Gubernur Irwan dan saya serta sejumlah pemred mendarat di Mentawai, di helikopter ada dua tas pakaian. Satu milik Muslim lainnya milik Doddy.
Pada Rabu (3/11) kemarin, Muslim terbang lagi ke Mentawai menemami Menteri Fadel Muhammad.
Malah di Mentawai, Irwan tiap sebentar ditelepon oleh hampir semua suratkabar dan televisi. Di Mentawai, Wagub Muslim sempat pula jadi ‘reporter’
Danrem
Saya menemukan Danrem 032 Wirabraja Kol Mulyono di Mentawai. “Bapak tak pulang-pulang,” kata stafnya. Sejak Rabu pekan lalu smapai Rabu kemarin, Mulyono masih di sana. Ia mengendalikan berbagai gerak relawan, distribusi bantuan. Danrem risau kalau rela wan terdampar, seperti yang terjadi dua hari lalu. Karena itu, tentara ini berusaha mencarinya. Wartawan asing yang lambat dapat kapal, lantas menuduh diusir, berusaha pula ia jelaskan kepada publik, “tidak ada pengusiran”
Ia memberi informasi ke Tanah Tepi, menerima telepon dari wartawan. Ia tentu juga menerima telepon dari istri dan anaknya di Padang.
Tentara ini, pada Senin lalu, saya lihat di Tuapejat. Ia menyambut kedatangan Gubernur Irwan. Kami terbang ke Muntei Baru-Baru, ia telah tiba pula di sana.
Bupati
Akan halnya Bupati Kepulauan Mentawai, Edison Saleleubaja, merupakan pejabat yang selain sibuk, lelah, letih juga harus mengemban tugas lebih berat. Namanya saja bupati. Edison, pada Senin lalu saya jumpai memakai sepatu boat hitam sampai ke lulut. Wajahnya ‘gersang’.
Ia menjadi tumpuan harapan sekaligus kekesalan warganya sendiri. Bantuan yang menumpuk di posko induk, menjadi tanggungjawabnya. Saya melihat, ia tidak kosentrasi lagi. Namun sang bupati berusaha tampil prima, apalagi silih berganti pejabat penting datang ke sana. “Bapak kurang tidur, makan juga telat terus,” kata stafnya kepada saya. Itulah hal-hal yang sempat terdeteksi oleh wartawan Sing galang dan sebagian jadi berita.
Lalu, Irwan ke Jerman. Selanjutnya terserah Anda. (Kj)

sumber: http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1659

2. Gubernur Irwan Prayitno dan Wagub Muslim Kasim Sangat Aktif diLapangan

Saya bangun pukul 05.00 WIB Selasa (2/11). Tak biasa begini,
tapi mau liputan ke Mentawai. Apa boleh buat. Pukul 07.20 WIB, helikopter
Susi Air membelah langit yang kelam.

“Aman, helinya bagus, pilotnya bisa melihat cuaca jauh di depan karena pakai
radar, tidak manual,” bujuk Gubernur Irwan Prayitno kepada saya dan sejumlah
penumpang lain nya, yaitu Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Djalal,
Pemred Padang Ekspres Sukri Umar, Pemred Padang TV, Vina Melwanti dan
Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Susmono yang tiba-tiba jadi
“kopilot”.

Heli berwarna putih itu meliuk dan meninggi. Sekejap kemudian hanya laut
yang terbentang. Gubernur Irwan terus bercerita soal perjalanan ke Mentawai
yang berat karena cuaca yang buruk. Tapi kemudian secepatnya meyakinkan kami
heli yang kami naiki, aman. Apalagi di tengah laut cuaca agak bagus.
Fasli Djalal tak ketinggalan, ia kisahkan suatu masa berbilang tahun silam,
ia tinggal tiga pekan di Mentawai. Kisah yang menarik.
Tak lama, laut lepas telah kami tinggalkan. Perairan Mentawai sayup
terlihat. Lama sudah saya tak ke sini. Ada kerinduan, ada ketakutan karena
cerita soal cuaca yang ekstrim. Tapi, kini heli hendak mendarat di Sikakap.
Saya melihat sejumlah wartawan peliput yang sudah kelelahan di sana. Mereka
riang begitu melihat temannyalah yang turun dari heli. Ada sejemput
kerinduan.

*Angkat barang*
Jika selama perjalanan Gubernur Irwan jadi “guide”, maka kini ia tak
segan-segan mengangkat alat-alat bedah yang dititip oleh Kepala Dinas
Kesehatan Rosnini Savitri.
Ia ambil sendiri, jinjing sendiri dan diserahkan kepada petugas di sana. Ia
juga menyerahkan barang lain kepada Danrem 032 Mulyono.

Selesai, helikopter pun terbang ke Desa Muntei Baru-Baru. Ketika heli hendak
mendarat, terlihat Ketua PMI Jusuf Kalla (JK) hendak menaiki helikopter. Ia
berhenti sejenak menunggu rombongan yang baru datang.
“Pak JK masih di sini rupanya,” kata Sukri. Ia sudah pakai pelampung, sepatu
boat dan hendak meninjau titik-titik pengungsian. Ia bertahan dua hari di
Mentawai guna memantau pelaksanaan bantuan oleh PMI.

Tak lama kemudian terlihat pula Wagub Muslim Kasim, Kadinas Prasjal Tarkim
Dody Ruswandi, Bupati Mentawai Edison Saleleubaja. Para pejabat itu sudah
kelelahan, namun mereka tetap bertahan di lokasi.
Tiba-tiba hujan turun lalu disapu angin kencang. Tak lama berhenti lagi.
Hujan lagi, begitu berkali-kali. Sementara laut bagai baru dicuci, bersih.
Tapi ombaknya menggila.

Lalu langit terang, terlihat helikopter lalulalang, di laut kapal juga
demikian. Sekejap saja cuaca bagus, semua segera bergerak. “Jika saja cuaca
baik, maka tiga hari selesai penyebaran bantuan,” kata Irwan.
Irwan pergi meletakkan batu pertama pembangunan sekolah sementara. Fasli
Djalal membawa uang Rp640 juta. “Kita bangun sekolah darurat dulu,” kata
Fasli.

Wagub Muslim Kasim bersama saya dan Vina di dekat pantai Muntei Baru-Baru.
Kami asyik wawancara, Wagub Muslim Kasim, asyik pula menjadi “reporter”. Ia
wawancarai rakyat, direkam, kemudian ditranslet. Hasilnya, ia bagikan kepada
wartawan.

“Saya jadi wartawan sekarang,” katanya terkekeh.
Di hadapan saya ia pertontonkan kehebatannya jadi ‘reporter’ peliput bencana
tsunami. Ia wawancarai seorang kepala dusun.

“Apa yang Bapak butuhkan sekarang?”
“Apa yang harus dilakukan pemerintah?”
“Kami butuh rumah Pak,” jawab si kepala dusun.
Hebat pula dia. Bertubi-tubi pula pertanyaan ‘wartawan’ yang satu ini.

Rombongan kecil ini kembali ke Padang dengan heli yang sama. Sejujurnya,
saya agak ngeri naik heli ke Mentawai karena cerita sebelumnya tentang cuaca
yang ekstrim, kapal yang terbalik. Saya juga ngeri, karena sebelumnya,
wartawan Singgalang pernah tewas karena heli yang ia tumpangi terjatuh.
Tapi, segalanya menjadi sirna, karena Tuhan menolong kami. Heli itupun
mendarat lagi di BIM.

Tapi kenapa Kabiro Humas Surya Budhi? Rupanya ia telah terbang ke Mentawai
bersama sejumlah wartawan lainnya. Tadi pagi ia memang menunggu heli yang
akan berangkat. Pulangnya, ia naik KRI, karena heli tak berani lagi terbang.
Lagi-lagi penyebabnya, cuaca ekstrim.[hariansinggalang/khairul jasmi]

<http://islamedia-online.blogspot.com/2010/11/gubernur-irwan-prayitno-dan-wagub.html>

3. Kritik pada Irwan Prayitno Over Dosis

Padang – Komentar tentang kunjungan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno ke Jerman, dinilai sejumlah pihak sudah over dosis, karena itu obyektifvitasnya bias.
“Latah dan over dosis, “ kata pengamat politik lokal Masful, kemarin.
“Berlebihan, semacam pembantaian,” kata anggota DPR asal Sumbar Nudirman Munir.
Over dosis
Masful menilai, ibarat permainan bola volly, kepergian Irwan ke Jerman adalah bola cogok. Begitu muncul di depan net langsung dipukul orang. “Itulah yang terjadi, saya setuju Irwan dikritik, tapi saya lihat justru kini sangat berlebihan, tak suka saya,” kata dia.
Bagi Nudirman Munir, ada tiga hal yang mesti dilihat, sisi angggaran, ketatanegaraan dan hubungan baik. “Jani sudah terbuat, tiket sudah terbeli hotel
sudah terpesan, dibatalkan anggaran mubazir, hubungan baik rusak,” kata dia. Lagi pula kata Wagub Muslim Kasim, Irwan sudah tiga malam di Mentawai. “Pak Gubernur tiga malam di mentawai tak disebut-sebut,” kata dia.
Arti penting
Kunjungan Irwan Prayitno ke Jerman memiliki arti strategis bagi Sumbar. Momentum penting agar bisa menarik investasi, terutama di bidang energi untuk kemajuan daerah ini sangat sayang dilewatkan. Namun, ini tidak menghalangi perhatian terhadap penanganan bencana gempa dan tsunami di Mentawai.
Anggota DPD, Riza Pahlevi, Jumat (5/11) menilai tampilnya gubernur sebagai pembicara dalam forum Indonesia Bussiness Day di Frankfurt Jerman akan memberi banyak manfaat bagi Sumbar. Dari banyak agenda gubernur di sana, seperti menggalang investasi, menghimpun bantuan gempa, ia melihat peluang penting dalam menggali potensi Sumbar di bidang energi.
Dipilihnya Sumbar bersama beberapa provinsi lain di Indonesia dalam pertemuan itu tidak terlepas dari potensi energi terbarukan yang dimiliki Sumbar. Menurut Riza, Sumbar memiliki potensi besar di bidang energi terbarukan, terutama energi air dan panas bumi. “Kita bisa menghasilkan 5.000 megawatt listrik dari panas bumi. Itu setengah dari potensi energi panas bumi yang dimiliki Indonesia. Kita punya peluang menggali potensi itu karena Jerman dan negara Eropa secara umum konsen dengan pengembangan green energy,” ujar Riza.
Saat ini potensi sumber air dan panas bumi Sumbar belum terkelola dengan baik. Padahal, ketika mampu menguasai sumber energi ini, Sumbar bisa bergerak lebih maju dan menjadi lirikan investasi. Energi inilah nantinya yang akan menjadi daya tarik dan menghidupkan industri dan kegiatan ekonomI.
Riza mengaku punya pengalaman mendatangkan investasi untuk pabrik coklat ke Sumbar, namun kendala ketersediaan listrik kemudian menyurutkan minat investor. Realitasnya, listrik di daerah ini bermasalah, padahal itu sangat penting dalam menggerakkan ekonomi.
“Kalau kita ingin bersaing, kita harus punya keunggulan. Kita bisa menjadi tempat investasi terbaik. Kita punya energi terbarukan. Ini hikmah daerah kita yang rawan gempa. Kunjungan gubernur ke Jerman menjadi momentum penting untuk menarik investasi di bidang energi terbarukan,” tambah Riza.
Sumbar harus berlari cepat karena daerah ini masih terpuruk dengan tingginya angka kemiskinan. Untuk berlari cepat itu diperlukan langkah-langkah yang tak biasa, seperti dengan menggali potensi energi terbarukan yang dimiliki Sumbar.
Semua ini tentunya tentang kemajuan Sumbar ke depan dan kebetulan momentum ada saat ini. Riza mengakui ada persoalan sensitif terkait dengan kepergian gubernur yang bertepatan dengan musibah gempa dan tsunami di Mentawai.
Gubernur sendiri memiliki agenda untuk mepresentasikan masalah bencana, sehingga bisa menarik bantuan internasional. Penanganan gempa dan tsunami sendiri menurut Riza tetap menjadi perhatian khusus gubernur.
Komitmen gubernur dalam mengatasi bencana tegas Riza seharusnya tidak disangsikan lagi. Ketika tsunami Mentawai, gu bernur tiga hari berada di lokasi bencana. Ia tidur bersama korban, mempertaruhkan nyawa dengan kondisi cuaca yang tidak ber sahabat. Demikian pun dalam penanganan gempa 2007 dan 2009.
Sekian lama persoalan bantuan gempa 2007 dan 2009 terkatung-katung, namun dalam dua bulan kepemimpinannya, gubernur mampu merealisasikan bantuan tersebut. “Saya paham ada persoalan sensitivitas dengan korban gempa. Namun, masyarakat bisa melihat sendiri apa yang telah dilakukan gubernur. Kita serahkan saja masyarakat yang menilai,” ujar Riza lagi.
Penanganan gempa dan tsunami Mentawai terus berjalan. Di mana pun berada, gubernur tetap melakukan koordinasi dengan pejabat terkait. Apalagi terang Riza, wakil gubernur sendiri turun langsung melakukan koordinasi.
Kontroversi
Menurut Budiman Sudjatmiko dari Komisi II DPR tidak pas seorang kepala daerah meninggalkan daerahnya yang sedang dilanda bencana. Karenanya Komisi II yang membidangi pemerintahan dalam negeri perlu mengklarifikasi kepergian Irwan ke Jerman.
Sebab, dia mendengar informasi kepergiannya tidak mendapat izin Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi. “Saya akan usulkan begitu reses selesai, panggil Mendagri dan Gubernur Sumbar. Apakah sudah ada izin atau belum. Seandainya tidak ada izin, ada pelanggaran kewenangan di sana,” kata Budiman.
Sementara Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi Partai Keadilan Sejahtera (PK) yang juga anggota Komisi II DPR dari FPKS, Aus Hidayat Nur berjanji dari partai akan meminta klarifikasi kepada Irwan mengenai maksud dan tujuan dari kepergiannya ke Jerman.
“Namun sebelum ada klarifikasi lebih lanjut, kita tidak bisa memberikan sanksi apapun. Saya juga sudah berusaha menghubungi beliau tapi sampai sekarang belum bisa,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sumbar, Boy Lestari Dt. Palindih menilai pula kunjungan gubernur ke Jerman tidak perlu diperdebatkan panjang lebar. Gubernur memenuhi undangan resmi, tidak hanya membawa kepentingan daerah bahkan kepentingan nasional.
Tampil di forum resmi di negara lain seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Sumbar. “ Kita berpikir positif saja. Gubernur juga pergi bukan untuk kepentingan Irwan sebagai pribadi. Ini kepentingan daerah bahkan nasional. Seharusnya kita bangga mendapat perhatian dari Jerman,” ujar Boy

sumber: http://www.hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1693