Mumpung belum hilang dari ingatan kita, ada sedikit catatan tentang Cast Lead Operation, sandi agresi militer besar-besaran terhadap wilayah Jalur Gaza yang berlangsung akhir Desember 2008 hingga pertengahan Januari 2009 lalu. Sebuah pertunjukan kesombongan dari sebuah negara zionis yang super dzolim bernama Israel. Pertunjukan kedzoliman luar biasa ini telah mengundang dukungan yang luar biasa pula kepada bangsa Palestina, terutama dari kita sesama umat islam. Baik dalam bentuk aksi solidaritas sehingga mereka tidak pernah merasa sendiri, atau dalam bentuk donasi dana kemanusiaan yang lebih mereka butuhkan, atau pun sekedar do’a yang terus kita panjatkan. Termasuk saya, InsyaAllah selalu menyempatkan do’a kepada saudara-saudara kita tersebut. Pernah saya memanjatkan do’a, memohon kepada Allah agar menurunkan bala bantuan langit layaknya peristiwa penghancuran Pasukan Gajah Abrahah dengan burung Ababiel. Meskipun kemudian terpikir hal itu belum tentu sepenuhnya benar, karena Gaza bukanlah wilayah tanpa kekuatan yang siap mempertahankannya. Gaza masih tegak di bawah kekuatan pemberani pimpinan HAMAS. Mungkin lebih tepat memanjatkan do’a agar pertolongan itu turun layaknya peristiwa Perang Badar.

for-palestineBerkaca dari hasil yang telah dicapai masing-masing pihak dalam perang 22 hari tersebut, sampai hari ini saya masih menganggap bahwa Gaza (Palestina) lah yang hari ini justru dipilih Allah menjadi penjaga reputasi dan izzah umat islam. Jika tidak karena perjuangan Gaza kemarin, mungkin reputasi umat Islam hari ini sudah semakin tenggelam. Hal ini karena banyak negara-negara islam lain yang lebih besar dan kuat malah tunduk di bawah bayang-bayang hegemoni dunia. Pertanyaannya adalah mengapa negeri sekecil Palestina yang malah dipilih Allah dan bukannya negara yang lebih besar? Mengapa bukan Indonesia sebagai negara islam terbesar yang dipilih untuk berhadapan dengan Israel?

Secara aksiomatis, tentunya siapa yang terpilih tentunya adalah mereka yang benar-benar mampu dan bisa dipercaya (capable and credible). Lalu apakah Palestina lebih capable and credible daripada pendudukIndonesia? Paparan majalah “Sabili” bertajuk “We Will Not Go Down” beberapa waktu lalu sedikit memberikan jawaban tentang ini. Brigade Izzudiin Al-Qossam, sayap militer HAMAS, memberikan cerita menarik tentang bagaimana membentuk sebuah masyarakat yang patriotik, dan pasukan yang tangguh.

Satu hal saja, tentang rekrutmen dan pembinaan anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam saja terdapat perbedaan yang cukup jauh dengan kita. Pertama, untuk menjadi anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam harus mendapat ijin dari orang tua. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang sulit di Palestina, karena sudah menjadi cita-cita para ummahat di Palestina untuk mengantarkan putra-putrinya menjadi syuhada. Bagaimana dengan Indonesia? Jika Indonesia hari ini diserang oleh Israel, apa yang kira-kira dilakukan orang tua kita? Saya belum terlalu yakin bahwa mayoritas orang tua kita yang akan melepaskan anaknya pergi ke medan perang. Apalagi untuk sekedar mendaftar menjadi pasukan perang di kala tidak ada agresi.

Kedua, untuk mendaftar Brigade Izzudiin Al-Qossam harus memperoleh surat pernyataan dari imam masjid setempat yang menyatakan bahwa yang bersangkutan selama 2 (dua) bulan berturut-turut tidak pernah absen sholat subuh berjamaah di masjid. Bisa kita bayangkan, berapa puluh persen pemuda kita yang akan tereliminasi oleh syarat ini? Sebagai contoh, di masjid dekat kontrakan kami, jumlah jamaah sholat subuh setiap harinya berkisar 1,5 shaf dari sekitar 12 shaf yang tersedia. Kemudian berapa jumlah pemudanya? Dapat saya pastikan sekurang-kurangnya 80%-nya merupakan kelompok usia lanjut (pensiunan). Bisa diperkirakan berapa persen pemuda kita yang lolos seleksi awal ini, pastinya sangat kecil, kecuali mereka pada menyogok imamnya dan imamnya mau disogok.

Ketiga, standar harian anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam terkait dengan aktifitas kedekatan dengan Al-Qur’an. Setiap anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam wajib membaca Al-Qur’an minimal 1 juz setiap hari, menghafalkannya, serta membaca dan mendalami tafsir Al-Qur’an. Bagaimana dengan kita? Berkaca dari diri sendiri, untuk sekedar dapat rutin membaca Al-Qur’an setiap hari masih sangat susah, apalagi rutin menghafalkannya, mengkaji dan mendalami tafsirnya. Astagfirullah! Kira-kira adakah para pemuda kita memiliki jadwal rutin mengkaji dan mendalami Al-Qur’an? Kalau ada, berapa persen kah mereka? Kemudian jadwalnya harian kah? Atau mingguan kah? Atau bulanan kah? Atau tiap ramadhan kah? Semoga masih ada pada salah satunya.

Keempat, setiap anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam harus memiliki tingkat intelektualitas di atas rata-rata. Hal ini sangat jelas terlihat dari personel Brigade Izzudiin Al-Qossam yang umumnya merupakan kaum terpelajar, mereka para insinyur, teknisi, guru, dosen, ustadz dan profesional lainnya. Di pucuk pimpinan HAMAS sendiri kita ketahui umumnya berpendidikan Strata 3. Salah besar jika menganggap mereka hanya mengandalkan aspek emosional karena terjajah. Tentunya ini bukanlah sesuatu yang mengherankan mengingat militer dan perang memang selalu berkaitan dengan taktik dan strategi.

Bagaimana dengan Indonesia? Adakah lembaga pertahanan negara dan masyarakat kita seperti itu? Yang formal saja, saya masih ingat dengan teman-teman sepermainan dan teman-teman SMA, yang sekarang menjadi aparat pertahanan atau keamanan untuk negeri ini. Sebagian dari mereka yang umumnya berasal dari keluarga mapan, saya saksikan hanya menjadikan sekolah sebagai sarana untuk mendapatkan ijazah sekedar sebagai syarat untuk mendaftar menjadi polisi atau tentara. Ketika syarat ijazah sudah terpenuhi, koneksi orang tua lah yang selanjutnya menjadi andalan untuk memperoleh obsesi. Mungkin sebagian efek dari kondisi ini kita saksikan sekarang, bagaimana kualitas aparat kita yang masih jauh dari kata ideal. Bahkan melihat perilaku segelintir oknum tersebut saya jadi ingat perkataan seorang rekan beberapa tahun lalu. Ketika ramai-ramai Densus 88 menangkapi umat islam sebagai tersangka teroris, dia bergumam, “ seandainya Indonesia diserang negara lain, saya tidak yakin mereka yang sekarang menangkapi itu lebih berani untuk membela tanah airnya daripada meraka yang ditangkapi yang notabene-nya hari ini dianggap sebagai musuh negara.” Wallahu a’lam.

Bagaimana dengan yang informal? Sudahkah lembaga-lembaga masyarakat yang ada di negeri ini sepenuhnya memperhatikan aspek intelektual ketika merekrut personel satuan pendukung keamanan, beladiri atau kepanduannya? Ataukah lembaga seperti itu hanya menjadi tambatan bagi mereka yang malas mengejar intelektualitas? Memang, ketika ada peristiwa Palestina atau sejenisnya muncul beberapa kelompok yang memperlihatkan kesiapan maju ke medan perang. Meskipun saya juga menaruh apresiasi pada semangat mereka, saya belum habis pikir terhadap beberapa kelompok ini. Maksud saya begini, kok bisa-bisanya mereka yang pada dasarnya siap berjihad menjemput syahid, kok yang dipersiapkan malah ilmu kebal tubuh, terus kapan syahidnya? Dimanakah posisi intelektualitas itu?

Kelima, yang jelas setiap anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam harus memiliki standar perilaku dan akhlaq yang mulia. Satu hal saja yang ingin saya ungkapkan, tidak ada anggota Brigade Izzudiin Al-Qossam yang merokok. Bagaimana dengan kita? Fakta terakhirnya, tingkat partisipasi merokok di Indonesia bahkan sudah dimulai ketika berusia kurang dari 10 tahun. Bahkan, beberapa waktu yang lalu ada kabar anak umur 4 tahun dari Malang yang sudah kecanduan rokok karena meniru kakeknya yang perokok. Ini juga memperlihatkan kurangnya teladan di masyarakat untuk menjauhi rokok sebagai salah satu akhlaq mulia. Klimaksnya jelas terlihat ketika MUI mengeluarkan fatwa tentang keharaman rokok (meski masih parsial), yang mendapatkan penentangan dari berbagai kelompok dan lapisan masyarakat. Padahal jelas-jelas fatwa yang sebenarnya belum ideal itu, bertujuan demi kemaslahatan generasi dan bangsa.

Memperhatikan beberapa item ini saja saya jadi tahu, betapa pemuda dan rakyat Palestina memiliki kematangan spiritual, emosional, intelektual dan tentunya fisik untuk perang. Membandingkan beberapa item ini saja, saya sempat bergumam “Untung bukan Indonesia yang diserang Israel.” Seandainya Indonesia yang diserang mungkin kondisi yang lebih parah justru akan terjadi. Meskipun kita memiliki pasukan dan perlengkapan perang yang lebih banyak dibanding Gaza, karena sekali lagi Cast Lead juga membuktikan kekuatan militer yang lebih canggih pun bukan lah jaminan. Secercah rasa syukur ini bukan lah karena semata-mata kita yang terhindarkan dari kebiadaban Israel, tetapi karena Allah telah memilih penjaga reputasi kekuatan Islam dari hamba-hambanya yang memang capable dan credible, meskipun kelihatannya kecil dan lemah. Sekaligus sebagai pelajaran, sindiran, bahkan hinaan Allah kepada mereka yang masih sombong dengan besarnya kekuatan, bangga dengan kuatnya sekutu dan asyik dengan dunianya sendiri.

Lalu apakah setelah terpilih, sang penjaga reputasi Islam tersebut kita biarkan sendiri berjuang sendirian melawan Israel yang mengaku-ngaku sebagai bangsa terpilih? Tentu jawabnya tidak, layaknya pemilu yang belum terpilih seharusnya memberikan dukungan kepada yang terpilih. Oleh karena itu, mari kita dukung terus perjuangan bangsa Palestina sekecil apapun peran yang mampu kita berikan! “Setiap orang harus mengambil peran sekecil apapun,..” begitu kata Frederic Kanoute setelah dijatuhi sanksi karena telah menunjukkan kaos bertuliskan dukungan terhadap Palestina setelah mencetak gol untuk timnya Sevilla.

Selanjutnya, seperti juga pemilu sebagai yang belum terpilih seharusnya kita berusaha memparbaiki diri, menata pola pikir, mentalitas, kebiasan, perilaku dan karakter sebagaimana Gaza membangun itu semua, bahkan meskipun di tengah keterasingan dunia. Sehingga suatu saat kepercayaan Allah akan sampai kepada negeri ini, menjadi penjaga reputasi islam dan memimpin dunia. WE WILL NOT GO DOWN! BANGKIT NEGERIKU, HARAPAN ITU MASIH ADA!

* Dimuat kembali untuk mengobati kerinduan dan menyegarkan semangat…..