Istilah “alay” akhir-akhir ini cukup populer. Sayangnya, istilah ini cenderung dialamatkan pada seseorang atau komunitas dengan ciri-ciri perilaku atau perkataan yang berkonotasi negatif atau minimal pada level sesuatu yang tidak disukai. Namun, seorang “alay” yang satu ini tampaknya jauh dari konotasi tersebut karena sang “alay” yang satu ini memiliki konotasi yang sangat positif. Bahkan, setelah mengetahui profil sang “alay” yang satu ini bukan tidak mungkin kita akan berpikir untuk mendefinisikan ulang istilah “alay” menjadi konotasi yang lebih positif.

Berikut profil singkat sang “alay” tersebut:

Nama: H. Nuzli Arismal, dikenal dengan H. Ali atau H. Alay
Usia: 50-an
Status: Menikah, 9 orang anak
Pendidikan terakhir: SMP

Bisnis: Distributor produk garment di Blok F Tanah Abang, di antaranya Lois, Lea, Cardinal, H&R, Watchout, Country Fiesta,Tira, Dadung, iebe, dll. Pemilik dan pengelola properti di Tanah Abang, Mangga Dua, ITC Cempaka Mas.

Organisasi: Ketua Umum Syarikat Masyarakat Industri & Pasar Indonesia(SMI & PI), Ketua Umum Koperasi Pasar Syariah dan BMT Fajar Siddiq Tanah Abang, Preskom Hoklay Corporation, Pembina Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah.


Dan berikut ini cerita lengkap tentang Haji Alay:

Tutur kata laki-laki yang suka mengenakan baju koko dan peci ini kalem dan datar. Caranya mengomentari sesuatu pun tak terlihat menggebu-gebu. Namun, kata-kata yang keluar dari lisannya sungguh berbobot dan selalu membuat kesan yang mendalam bagi lawan bicaranya.

Boleh dikata tak banyak dari obrolannya yang terbuang sia-sia. Hampir semuanya mengandung makna dan pelajaran. Bahkan, ia juga tak terlalu pelit untuk sekadar menyampaikan tausiyah kepada rekan atau orang lain yang dijumpainya.

Boleh jadi karena itu, banyak orang menaruh hormat kepadanya. Bahkan tidak sedikit pula yang datang kepadanya untuk sekadar curhat dan mengutarakan keluh kesahnya. “Saya bersyukur kalau bisa bermanfaat bagi orang,” katanya, penuh syukur.

Haji Alay, demikian nama pria yang santun ini. Di mata Pak Haji – panggilan akrabnya – berbuat baik dan membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, sesuatu yang tak bisa ditawar lagi. Ia mengamalkannya sebagai bagian dari perintah Allah SWT dan rasul-Nya.

Sepintas lalu, pola pikir suami Hj Azmiaty ini cukup sederhana. Namun sangat terasa manfaatnya. Yaitu, memulai sesuatu dari yang kecil. Itulah mengapa, ayah sembilan anak ini tak jarang merangkul para pedagang kaki lima (PKL) atau para tukang rokok jalanan. Selain menuntun berbisnis, Pak Haji juga mengajari mereka akidah dan akhlak Islam.

Tak cukup sampai di situ, kakek tujuh cucu ini juga mendorong mereka agar mampu menjadi pedagang yang mandiri dan tangguh. Di pusat tekstil Tanah Abang – tempat sehari-hari Alay beraktivitas – misalnya, tidak sedikit para pedagang, terutama yang baru merintis usaha, dibantu.

Ia mempersilakan para pedagang menempati kios-kios yang tersedia di kompleks pertokoan Tanah Abang tanpa dipungut ongkos sewa sepeser pun. Dan baru membayar sewa jika usaha mereka telah berjalan dan mendapatkan keuntungan.

Gebrakan laki-laki yang gemar membantu orang ini ternyata berbuah ranum. Pusat pertokoan Blok F, Tanah Abang yang tahun-tahun sebelumnya sepi karena tidak laku, tak berapa lama kemudian menjadi ramai. Blok ini pun kini telah menjadi magnet yang sangat kuat menarik para konsumen untuk datang ke sana, tak hanya di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi tapi juga daerah lain di Indonesia.

Di lain sisi, melalui bimbingannya, tak sedikit para pedagang kaki lima yang berhasil merengkuh kesuksesan usaha. Dari pedagang kaki lima menjadi pedagang besar yang mampu membeli dan menyewa kios sendiri. Bahkan, ada beberapa di antara mereka yang sukses menjadi pengusaha yang memiliki puluhan kios di Tanah Abang.

Haji Alay juga berhasil meramaikan sejumlah mal di Sukabumi, Cipadu, Cilegon, Makasar dan Ciputat. Salah satu mal di daerah Ciputat misalnya, beberapa tahun sebelumnya, mal ini sepi pengunjung. Hal itu berubah ketika ia diminta untuk mengelolanya. Dengan konsep yang sama, kini mal yang bernama Choliva itu ramai dikunjungi konsumen. Itu terjadi kurang dari satu tahun.

Kini, ustadz berusia 56 tahun itu sering dipanggil ceramah di sejumlah masjid dan kampus. Ia juga sedang mengelola pusat grosir pakaian di Jalan Banceuy, Bandung. Pertokoan yang diharapkan menjadi pusat garmen terlengkap seperti pertokoan Tanah Abang di daerah Bandung ini diberi nama Atece, Abdurrahman bin Auf Trade Center.

Soal rahasia suksesnya, Ketua Umum Serikat Masyarakat Industri dan Pasar Indonsia ini tak pernah menutup-nutupinya. Ia akan berbagi kepada siapa saja yang bertanya dan ingin mengetahuinya. Satu di antara rahasia tersebut adalah membina para pedagang hingga memiliki akhlak dagang yang baik.

“Seperti Rasulullah Muhammad saw, dalam berdagang tak pernah berbohong dan menentukan harga yang dapat terjangkau oleh konsumen. Karena itu, siapa pun yang menjalin hubungan dagang dengan beliau, tidak pernah menyesal. Sebab, prinsipnya adalah membahagiakan orang lain,” jelasnya.

Seperti kata pepatah pucuk di cinta ulam tiba. Keberhasilannya meramaikan sejumlah pusat perbelanjaan membuat jantung sejumlah para pemilik mal besar berdetak kagum. Karena itu, penggagas organisasi Tangan Di Atas (TDA) ini pun kebanjiran banyak tawaran dari para pengusaha, pemilik mal untuk meramaikan trade center mereka.

Tak seperti kebanyakan orang, meski tawaran dari para pengusaha mal cukup banyak, namun hal itu tak lantas membuat Haji Alay merasa besar kepala. Sikap, penampilan dan prilakunya pun sama sekali tidak berubah. Sederhana, tawadhu dan tidak pernah membuat jarak dengan para pedagang.

Ketajaman intuisi dagang pengurus majelis ekonomi Muhammadiyah ini tak bisa dilepaskan dari perjalanan hidupnya selama ini. Lahir 30 Mei 1953 di Bukit Tinggi, Sumatera Barat dari pasangan Rajudin Ismail-Lamsiar. Ayahnya Rajudin adalah seorang tokoh agama setempat.

Sejak masih di sekolah dasar (SD), Alay sudah suka berdagang. Selepas pulang sekolah, siang harinya, usai shalat zuhur ia menuju pasar dekat rumah menjual buah-buahan, cabe dan jagung hasil kebun. Usai Ramadhan menyambut Idul Fitri, ia meniup balon sendiri kemudian menjualnya di pasar.

Jiwa dagang terus terpupuk sampai ia menginjak sekolah Pusat Latihan Kejuruan Industri, setingkat sekolah menengah atas (SMA) saat ini. Siang hari usai sekolah, ia berdagang kacang goreng di sekolah dan pasar dekat rumah.

Meski masih belia, ia sering mengikuti ayahnya berceramah dari satu kampung ke kampung lainnya. Ayahnya juga sering mengajak Alay kecil ke kantor koperasi desa. Sejak kelas satu SD, ayahnya mengajari Alay berpidato. Dari sinilah bakat kepemimpinannya mulai tumbuh.

Karena itu, tak mengherankan jika kelas satu SMP, ia sudah terlibat dalam berbagai pergerakan pelajar. Saat itu, ia terlibat aktif sebagai aktivis Serikat Pelajar Muslimin, organisasi pelajar di bawah payung Partai Serikat Islam Indonesia (PSII).

Meski suka berdagang, namun minatnya menimba ilmu agama juga cukup kuat. Selain dari ayahnya, ia juga belajar Islam dari kiai-kiai terkenal saat itu. Hijrah ke Palembang sambil terus berdagang, ia mendatangi ulama Palembang untuk berguru ilmu Islam, seperti ke Rasyid Thalib, Adam Ibrahim, Ghafar Ismail dan lainnya.

Tahun 1977, pria yang murah senyum ini hijrah ke Jakarta. Profesi dagang terus berlanjut. Merangkak dari bawah, ia berdagang di daerah Tebet dan Rawamangun. Bak layang-layang tertiup angin, bisnisnya semakin kencang berkembang. Dari hasil keuntungannya, pada tahun 1983 ia telah memiliki empat buah kios.

Keuntungan berlipat sudah di depan mata. Namun, Allah SWT ternyata berkehendak lain. Tiba-tiba, di tahun itu juga terjadi krisis, para pungli ditangkap aparat. Akhirnya, pasar di Tebet dan Rawamangun sepi. Usahanya stagnan karena semua dagangannya ludes untuk membayar utang.

Alay menyikapi hal ini dengan sabar, tak putus asa, sambil terus berjuang membangun kembali usahanya. Doa dan usahanya ternyata membawa hasil. Pada tahun 1984, setelah menjual kapling di daerah Pondok Kelapa, ia kembali merintis bisnis di daerah Tanah Abang. Pelan tapi pasti, bisnisnya kembali bersinar. Kiosnya pun terus bertambah. Kini, Alay dipercaya para pemilik mal besar mengelola trade center milik mereka.

“Kalau suatu saat mengalami jalan buntu, jangan patah semangat. Jika sabar dan terus berusaha, Allah akan memberikan jalan yang lebih baik. Karena itu, jangan pernah putus asa akan rahmat Allah SWT,” pesan Haji Alay.

Kini, kesibukannya cukup banyak. Selain mengelola sejumlah trade center dan sebagai dai, ia juga berbagi ilmu dengan sejumlah organisasi, seperti Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia, Tangan Di Atas (TDA), dan Majelis Ekonomi Muhammadiyah. Ia juga diamanahi sebagai Ketua Umum Serikat masyarakat Industri dan Pasar Indonesia.

Menjadi sukses ternyata tak terlalu sulit. Belajar dari Haji Alay, pegang saja satu prinsip yang diajarkan Rasulullah saw, bagaimana membahagiakan orang lain.

Referensi:

http://roniyuzirman.wordpress.com/2006/01/13/sekilas-profil-pak-haji-ali/

http://trimudilah.blogspot.com/2009/05/bersama-menebar-rahmat.html

http://sabili.co.id/index.php/200904291646/Wawancara/Haji-Alay-Pembina-Pedagang-Tanah-Abang.htm