Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air yang menjadi rusak karena diam tertahan,
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan..

Imam Syafi’i

A. Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara, menggunakan kutipan syair Imam Syafi’i di atas sebagai prolog novelnya tersebut. Oleh karena itu, tidak heran ketika kita mulai membaca Negeri Lima Menara, juga pasti akan disuguhi dengan untaian kalimat yang luar biasa tersebut. Tidak terkecuali dengan istri saya yang langsung takjub dengan kutipan syair tersebut. Spontan langsung memperlihatkan dan membacakan untaian kalimat itu kepada saya. Dan kemudian diakhiri dengan kata-kata, “Abi banget!” Rupanya untaian syair Imam Syafi’i tersebut mewakili kesimpulan istri atas lembaran proposal kehidupan yang saya tawarkan awal Juni 2007 silam, ketika kami dalam proses pernikahan. Ada sensasi dari ungkapan istri atas syair tersebut, ada unsur penunaian kewajiban berupa mengingkatkan kembali dan menjaga idealisme suami. Dalam proposal kehidupan tersebut, saya mengakhiri penawaran dengan sebuah permintaan bagi seorang yang bersedia menjadi pendamping hidup, untuk senantiasa bisa menjadi pengingat dan penjaga suami dalam mewujudkan proposal kehidupan tersebut.

Terima kasih istriku, engkau telah dengan elegan menjadi pengingkat dan penjaga idealisme suamimu, yang mungkin akhir-akhir ini kelihatan malas, lemah komitmen, kurang disiplin dan hal-hal tidak produktif lainnya. Maafkan suamimu atas kelamahan-kelamahan ini! Dan ketika sekian waktu berlalu, ketika saya juga belum sepenuhnya bangkit kembali pengingat itu datang. Terima kasih juga Ustadz atas tausiyah keutamaan “mengembara”, antara lain menghilangkan kegelisahan, mencari penghasilan, mencari ilmu, dan memperbaiki akhlaq (MBM Purnawarman – Jum’at, 9 April 2010). Ini sekaligus menjadi indikator kinerja utama kita.