Secuil Persembahan untuk Saudara-saudara tercinta
Di Direktorat Jenderal Pajak*
“TEGARLAH DJPKU, ASA ITU MASIH ADA”

Ini adalah cerita tentang tiga benda berinisial “A” yang dalam sejarah kehidupan manusia telah berhasil mematikan beragam karakter manusia. Beragam karakter tersebut baik karakter moral/mental, karakter perilaku, karakter citra bahkan karakter kehidupan manusia itu sendiri.

“A” yang pertama adalah “artha”. Secara etimologis, kata “artha” berasal dari bahasa sanskerta yang antara lain bermakna harta benda, kekayaan, uang, perkara, urusan, kesibukan, bisnis, keuntungan, manfaat, harga dan nilai. Kata “artha” diserap ke dalam Bahasa Jawa salah satunya menjadi “arto” yang berarti uang dan diserap ke dalam Bahasa Indonesia salah satunya menjadi “harta” yang berarti kekayaan. Di sini dapat disimpulkan bahwa “artha” yang dimaksudkan di sini bermakna sebagai uang atau harta kekayaan. (http://pondokbahasa.wordpress.com)

Artha-lah faktor yang telah menjadikan Gayus Tambunan “terbunuh” moralitas, mentalitas dan citranya sebagai aparat Ditjen Pajak yang memiliki visi “Menjadi Institusi pemerintah yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi.” Bahkan bukan cuma Gayus Tambunan yang menanggung akibatnya, institusi, almamater dan rekan-rekan kerjanya pun ikut “terbunuh” citranya. Siapakah Gayus Tambunan, sehingga cukup dengan artha orang dapat membunuh prinsip yang seharusnya ditegakkannya?

Gayus Tambunan adalah PNS golongan III/a DJP Kementerian Keuangan yang bertugas menangani keberatan dan banding wajib pajak. Pria berumur 30 tahun ini baru lulus Diploma 4 Akuntansi STAN tahun 2005, dengan capaian IPK tiga koma sekian. Masih sangat muda, berwajah lumayan tampan serta berpostur gagah dan tidak kurang satu pun kesempurnaan fisik. Termasuk produk era reformasi dan reformasi birokrasi Kementerian Keuangan, generasi yang diharapkan memiliki idealisme untuk perbaikan. Adakah selain itu, nilai lebih Gayus yang pantas dihargai lebih? Wallahu’alam, faktanya cukup dengan artha (ATM, “angpao”, apartemen) segala intelektualitas, independensi dan kegagahan Gayus berhasil “dimatikan” oleh pihak berkepentingan. Selesaikah urusan pihak berkepentingan dengan “membunuh” Gayus? Mungkin untuk sementara selesai, tetapi itu tidak akan selamanya. Karena meskipun diperkirakan masih banyak Gayus-Gayus lain dan Gayus-Gayus baru, tetapi saya meyakini masih banyak juga yang tidak berhasil “dimatikan” dengan artha tersebut. Semoga!

Karena artha ini pula, Gayus sendiri mungkin juga tidak akan sekedar mati karakter moral dan nama baiknya, tetapi juga akan berhadapan dengan risiko kehilangan karakter kehidupannya jika pihak-pihak yang kemungkinan akan terseret Gayus berlaku nekad. Padahal awalnya Gayus mungkin hanya pingin menghindari risiko takut miskin dan tidak bisa hidup mewah. Setidak-tidaknya artha yang awalnya terasa nikmat itu pun akhirnya tidak mendatangkan kemuliaan sama sekali baginya.

“A” yang kedua adalah “arsenik”. Arsen, arsenik, atau arsenikum adalah unsur kimia dalam tabel yang memiliki simbol As dan nomor atom 33. Ini adalah bahan metaloid yang terkenal beracun dan memiliki tiga bentuk alotropik; kuning, hitam, dan abu-abu. Arsenik dan senyawa arsenik digunakan sebagai pestisida, herbisida, insektisida dan dalam berbagai aloy. Arsenik dan sebagian besar senyawa arsenik adalah racun yang kuat. Arsenik membunuh dengan cara merusak sistem pencernaan, yang menyebabkan kematian oleh karena shock. (http://id.wikipedia.org/wiki/Arsen)

Tercatat racun arsenik ini telah membunuh Munir, SH. yang tewas dalam penerbangan dari Singapura menuju Amsterdam, Belanda, 17 September 2004. Hasil otopsi menunjukkan Munir tewas karena racun arsenik yang dilarutkan dalam minumannya. Sampai sekarang konspirasi tingi kasus pembunuhan Munir belum juga terungkap. Siapakah Munir, sehingga harus ada konspirasi untuk meracuninya dengan arsenik? Munir dikenal sebagai seorang aktivis HAM Indonesia yang sangat kritis menyuarakan kasus-kasus pelanggaran HAM yang sebagiannya diduga menyangkut beberapa orang terpandang di negeri ini. Secara fisik, Munir berpostur kecil dan kurus, tetapi cukup energik.

Bisa saja seorang munir dibunuh dengan jalan kekerasan fisik mengingat postur fisiknya yang kecil dan kurus, tetapi faktanya pihak berkepentingan malah menggunakan arsenik yang lebih tersembunyi. Mungkin nilai lebih berupa keberanian dan kevokalan Munir dirasa tidak bisa lagi dihentikan dengan “artha”, melainkan harus dihentikan secara tersembunyi dengan arsenik. Setidaknya dengan arsenik itu kehidupan dan isu yang disuarakan Munir berhasil dimatikan, tanpa harus diketahui siapa dalang dan motifnya. Bagi Munir sendiri memang arsenik telah menghilangkan karakter kehidupannya, tetapi hal itu malah melahirkan keharuman namanya dalam bidang pembelaan HAM.

“A” yang ketiga adalah “Apache”. Apache merupakan nama suku asli Amerika Utara yang mendiami daerah sekitar Meksiko dan Arizona. Nama ini kemudian juga dipakai sebagai nama jenis pesawat helikopter perang buatan Amerika Serikat. Salah satunya adalah helikopter Apache AH-64. Helikopter Apache AH-64 adalah helikopter dengan 4 baling-baling, dua mesin, dan 3 roda pendaratan. Helikopter ini termasuk ke dalam golongan helikopter penyerang (serbu) yang dioperasikan oleh 2 orang kru. Heli Apache ini dikembangkan sebagai Model 77 oleh Hughes Helicopter untuk angkatan bersenjata Amerika Serikat menggantikan AH-1 Cobra. Pertama kali terbang pada 1 oktober 1975, AH-64 memiliki kemampuan sensor untuk mengambil alih target dan pengelihatan malam hari (night vision systems). Persenjataan pada heli ini juga cukup mumpuni yaitu Chain Gun M230 30 mm yang terletak diantara roda pendaratan utama. AH-64 juga dilengkapi dengan mixture AGM-114 Hellfire dan Hydra 70 rocket pods. (http://adipedia.wordpress.com)

Dari salah satu Apache inilah As-Syahid Syaikh Ahmad Yasin ditembak dari jarak dekat dengan tiga missil saat Beliau pulang dari melaksanakan sholat subuh berjama’ah di masjid Al-Mujama’ Al-Islami, Gaza. Tubuh Beliau terhempas dari atas kursi rodanya, tercabik dan syahid menemui kekasih tercintanya Senin, 22 maret 2004. Lalu siapakah Syaikh Ahmad Yasin, sehingga Israel sampai harus menghabisinya dengan tembakan jarak dekat dari kendaraan perang tercanggih dan dilakukan secara terbuka dipertontonkan ke muka dunia?

Syaikh Ahmad Yasin adalah pendiri dan pemimpin gerakan perlawanan Palestine HAMAS. Beliau beberapa kali ditangkap, disiksa dan dipenjara oleh rezim zionis Israel yang menjajah Palestina. Secara fisik, Beliau mengalami kelumpuhan total sejak muda akibat kecelakaan dalam sebuah aktifitas oleh raga. Di samping menderita kelumpuhan total, Syaikh Ahmad Yasin juga menderita beberapa penyakit lain. Di antaranya, kebutaan di mata kirinya dan lemah pandangan di mata kanannya akibat penyiksaan yang beliau alami saat menjalani penyidikan, menderita radang telinga cukup kronis, alergi paru-paru, beberapa penyakit dan peradangan dalam dan usus. Kondisi penahanan yang buruk yang dialami Syaikh Ahmad Yasin menyebabkan merosotnya kondisi kesehatannya, sehinggga harus dipindahkan ke rumah sakit beberapa kali. Kondisi kesehatan Syaikh Ahmad Yasin terus menurun akibat penahanan dan tidak adanya pelayanan kesehatan yang memadai.

Namun, dibalik kerentaan dan kelemahan fisik Beliau tersimpan kekuatan yang luar biasa, kekuatan yang tidak sekedar tampilan fisik maupun kata-kata, kharisma yang mampu menggerakkan hati rakyat Palestina untuk terus tidak berdiam dan bergerak melawan penjajahan Israel. Bagi Israel mungkin mereka berpikiran bahwa untuk menghentikan semuanya tidak dapat dengan “artha” dan tidak cukup dengan membunuhnya secara tersembunyi. Namun, harus dengan show kekejaman yang diharapkan akan menyiutkan semangat rakyat secara keseluruhannya atau dengan bahasa lain agar ada dampak sistemiknya. Tapi yang diperoleh Israel malah dampak sistemik yang sebaliknya, di mana semangat juang rakyat Palestina dan HAMAS semakin membara. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan HAMAS dalam pemilu 2006 dan ketangguhan Gaza dalam menghadapi Cast Lead Operations Desember 2008-Januari 2009.

Saya yakin masih banyak rekan-rekan DJP yang lebih memilih arsenik atau bahkan apache daripada artha yang tidak sah. Seringkali, apa yang orang tawarkan dan apa yang mau kita terima menunjukkan kualitas diri. ASA ITU MASIH ADA!

*Sekaligus mengenang 6 tahun syahidnya Syaikh Ahmad Yasin.