“…..…… .Maksudku, kita semua mencari cinta, tapi ada bagian dalam diri kita yang memandang rumput tetangga selalu lebih hijau, bagian yang bertanya-tanya apakah ada hal lain yang lebih baik daripada yang kita dapatkan sekarang. Seolah-olah tujuan hidup adalah meraih segala yang terbaik.”

Dan dengan tololnya percaya bahwa kita mungkin tahu apa yang terbaik.”

“Tepat. Jadi, mungkin proses jiwaku yang berikutnya adalah menyadari  bahwa menemukan kedamaian. Dengan seseorang atau dalam sehari-hari saja, aku harus belajar untuk lebih menerima, lebih bertanya, memanfaatkan kebahagiaan yang kudapat saat ini…..

Kutipan di atas adalah dialog antara James dengan Tim yang sedang membicarakan tentang pasangan, sebagaimana diceritakan dalam buku memoar yang berjudul  “A Doctor Without Borders: True Story from Blog” (Penerbit Hikmah-Mizan Group, 2009). Buku ini berisi tentang kisah nyata seorang dokter muda asal Toronto bernama Dr. James Maskalyk, yang mempertaruhkan nyawa demi kemanusiaan di daerah konflik Abyei, Darfur, Sudan.

Sepertinya cukup menarik untuk mengutip dan menuliskan kalimat-kalimat penuh makna di atas, semenarik ketika istri saya pertama kali menemukan tulisan tersebut dan semenarik ketika kami kemudian mendiskusikannya. Dan akan lebih menarik lagi jika tulisan ini mampu memberi inspirasi kebaikan/perbaikan bagi kami, maupun siapa saja yang membacanya.

Awalnya seperti mendengar sebuah kalimat yang luar biasa, meski ternyata setelah kita cerna, bukanlah sebuah hikmah yang sama sekali baru. Karena sudah terlebih dahulu kita pernah mendengar nasihat seperti, “Apapun yang terjadi, yakinlah bahwa itu takdir terbaik kita saat ini!” Atau khusus urusan pasangan seperti dalam kisah di atas, kita sering dinasehati bahwa kita harus mampu menempatkan istri/suami kita selalu sebagai jodoh terbaik yang diberikan Allah. Paling agung tentunya Surat An-Nisa’ ayat 19, ayat yang sering dinasehatkan istri kepada saya:

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (TQS. An-Nisa’: 19).

Inilah yang kami diskusikan, bahwa wisdom dari James di atas memang bukanlah sebuah teori baru yang belum pernah kita dengar. Namun, pastinya tetap bisa menjadi pengingat kembali akan teori-teori yang sudah kami dengar tapi barangkali belum atau lupa kita implementasikan.

Kemudian kami berdiskusi bagaimana seharusnya kita bisa menerapkan teori-teori ini. Marilah kita saling bertanya pada diri masing-masing. Bagaimana jika misalnya kita dalam kondisi menemui sifat, ucapan, perilaku atau kebiasaan pasangan yang tidak kita sukai atau membuat kecewa? Atau ekstremnya, jika secara bersamaan kita berjumpa seseorang yang kita prediksi justru memiliki kesempurnaan sifat, ucapan, perilaku atau kebiasaan tersebut? Adakah kita masih termasuk orang yang mempunyai pikiran bahwa meski ada satu atau dua hal dalam diri pasangan yang tidak kita sukai, tetapi pasti masih ada delapan atau sepuluh atau lebih banyak lagi hal yang bisa menyenangkan kita. Atau kalau ekstremnya di atas, bahwa belum tentu seseorang yang kita prediksikan memiliki satu atau dua hal tersebut, juga memiliki delapan hal lain yang kita sukai dan telah ada pada pasangan kita. Dalam kondisi ini, apakah kita masih termasuk orang berpikir bisa jadi kita dapatkan dua hal tetapi mungkin akan kehilangan tiga atau lebih hal yang lain.

Jika pikiran-pikiran ini yang masih mendominasi kita pada setiap dinamika hubungan dengan pasangan, berarti kita masih termasuk orang-orang yang digambarkan Al-Qur’an sebagai orang-orang yang bisa bersabar karena merasa bahwa mungkin kita sedang  tidak menyukai sesuatu yang Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. Jika sebaliknya, hati-hatilah mungkin saja termasuk orang-orag yang disebut James Maskalyk sebagai orang yang memandang rumput tetangga selalu lebih hijau dan percaya bahwa kita mungkin tahu apa yang terbaik.

Relevan dengan diskusi ini kami kemudian teringat dengan diskusi kami beberapa waktu sebelumnya. Suatu kali kami berdiskusi, istri meminta pendapat atas keluh-kesah seorang temannya. Intinya, sang teman tersebut berkeluh bahwa sebenarnya tipe wanita yang bisa setia dan sabar meskipun dihadapkan pada seorang suami yang kasar, tidak perhatian dan cenderung malas. Namun, akhir-akhir ini, ketika di satu sisi terasa suami semakin sering berlaku kasar dan menyakiti, di sisi lain muncul teman lama yang kembali menyambung komunikasi. Dalam dirinya timbul rasa bimbang ketika terasa teman lama itu begitu perhatian dan baik, kemudian mulai terasa timbul simpati dan kadang-kadang terlintas pikiran untuk berpisah dari suami. Keluh-kesah itu diakhiri dengan permintaan pendapat atas segala rasa dan lintasan pikiran yang muncul tersebut.

Istri bertanya, kira-kira nasehat apa yang tepat untuk teman tersebut selain nasehat untuk bersabar. Pada waktu itu, hanya dua hal yang dapat saya sarankan. Pertama, tentu nasehat untuk senantiasa berhati-hati dengan kemungkinan intervensi setan dalam lintasan-lintasan pikiran tersebut. Kedua, nasehat untuk berhati-hati dengan timbulnya persepsi-persepsi subjektif yang mungkin timbul karena kedekatan atau ketidakdekatan. Maksudnya, misalnya ketika sang suami dan temannya itu sama-sama kirim SMS berbunyi “lagi ngapain?”, bisa jadi SMS dari sang suami tersebut bermakna suaminya terlalu protektif dan serba ingin tahu. Tetapi sebaliknya, SMS dari sang teman bermakna sebagai perhatian seorang yang baik hati. Padahal bisa jadi disebabkan kurangnya referensi seorang menjadi terasa begitu baiknya, hanya dengan satu atau dua kali SMS yang dikirim.

Akhirnya, Alhamdulillah!, dengan tiga bahasan tadi kita menjadi semakin yakin dan berupaya penuh untuk menjadi kelompok yang pertama. SEMOGA BERMANFAAT!