Kurang lebih jam Sembilan pagi tepat dua tahun berlalu, ketika ikrar suci itu terucap. Dua September 2007, saat dengan mantap dan tanpa ragu-ragu sedikitpun saya ucapkan qabul sebagai penerimaan atas ijab yang disampaikan (calon) Bapak Mertua waktu itu. Selesai ahad nikah lega dan legal semua, menjadikan hari-hari penuh kebahagian dan keindahan. Dan hari ini, dua tahun telah berlalu usia pernikahan kami. Apakah hari-hari penuh bahagia dan keindahan itu masih ada? Jawabannya pasti iya, bahkan semakin berkembang dan bertambah, apalagi dengan hadirnya putri pertama kami yang menjadikan pandangan semakin sejuk. Meskipun juga diselingi dengan berbagai ujian, Alhamdulillah semua masih bisa kami lalui dan akhiri selalu dengan senyum bahagia yang semakin menambah rasa cinta dan kasih sayang di antara kami.

PH_D copy-1Waktu dua tahun masih terlalu singkat untuk dapat dikatakan kami telah mampu saling mengenal dan memahami segala hal di antara kami. Dari sinilah kami berpijak, kemungkinan munculnya insiden-insiden yang berawal dari masih kurangnya pengenalan di antara kami. Yah, masih terlalu singkat untuk dikatakan telah mengetahui segala hal dari pasangan karena kami memang baru menjalani kebersamaan selama dua tahun. Seandainya kita ditakdirkan menjalani ikatan ini selama 50 tahun (misalnya), berarti baru empat persen masa yang telah dilalui. Sangat mungkinlah kalau tingkat pengenalan itu juga baru berkisar empat persenan. Oleh karena itu, kami berusaha untuk sabar dan menikmati segalanya karena perjalanan masih panjang.

Ingat usia 50 tahun pernikahan jadi ingat sebuah hikmah yang dalam beberapa momentum kami jadikan penyegar dan penyemangat perjalanan rumah tangga kami. Alkisah ada sepasang kakek-nenek yang telah mencapai usia emas 50 tahun pernikahan. Untuk merayakan kebahagian ini, sang kakek mengajak nenek ke warung makan langganan mereka sejak muda, sekalian hitung-hitung nostalgia. Sang kakek pun memesan makanan kesukaan mereka, yaitu ikan gurame goreng khas warung tersebut. Seperti kebiasaan, sang kakek memesan satu ikan gurame yang dipotong menjadi dua, yaitu bagian tengah sampai kepala dan tengah sampai ekor. Ketika pelayan warung selesai menyajikan makanan yang dipesan, segera sang kakek mempersilahkan gurame goring ke istri tercinta. “Nek, untuk merayakan kebahagian kita di usia emas pernikahan, kakek pesan gurame goreng favorit kita. Ini kegemaran nenek, bagian ekornya, dan kepalanya untuk kakek saja.” ucap sang kakek untuk membahagiakan sang nenek. Mendengar itu sang nenek menjawab, “Oalah kek, jadi selama ini kakek mengira nenek sangat menyukai bagian ekornya. Nenek selalu minta ekornya bukan karena sangat menyukai. Nenek sebenarnya juga pingin kepalanya tetapi tidak enak karena  kepala adalah kesukaan kakek.” Sang kakek segera menimpali, “Lah, kakek juga! Selalu pilih makan kepala bukan karena kakek sangat menyukainya, tetapi kakek juga tidak enak sama nenek, kirain nenek itu sangat menyukai ekornya. Lah, kakek sebenarnya juga pingin lho makan ekornya.” Akhirnya mereka saling menukar guramenya, akhirnya mereka mendapat keinginan yang telah sekian puluh tahun terpendam hanya karena keinginan untuk selalu mendahulukan pasangan. Sebuah kelucuan yang semakin menambah deretan kebahagiaan di usia senja mereka.

Cerita ringkas ini penuh hikmah bagi kami dalam menjalani biduk rumah tangga kami. Pertama, ternyata dalam usia pernikahan yang begitu lama pun masih saja ada hal-hal yang mungkin belum kita kenali dari pasangan kita. Bisa dari sisi selera, kesukaan, preferensi, sifat, tabiat maupun kebiasaannya. Kedua, bisa jadi kegagalan kita untuk mengenali dan memenuhi kesukaan pasangan menjadi kita sangat kecewa pada pasangan. Namun, jika dilandasi dengan sikap mendahulukan pasangan (itsar) seperti pada cerita di atas, ternyata malah mengubah kecewa menjadi kelucuan yang menambah bumbu kemesraan.

Semoga cerita ini dapat selalu menjadi hikmah yang membimbing perjalanan kami. Untuk Istriku tercinta: SELAMAT ATAS MILAD KEDUA PERNIKAHAN KITA, SEMOGA SENANTIASA DIBERKAHI.