Jangan tersinggung dulu, jika saya menggunakan istilah “kurcaca moncong putih” dan “kurcaci PKS” dalam judul tulisan ini. Kontradiktif memang, tapi ini tidak dalam konteks merendahkan PKS, tentunya. Istilah kurcaca dan kurcaci ini saya pinjam dari syair lagu Bunga Trotoar karya Bang Iwan Fals. Kurcaca sebagai simbol kelompok elit, sedangkan kurcaci simbol kaum akar rumput. Jadi, judul itu memang sesuai dengan kisah yang ingin saya ceritakan ini. Ya, sebuah kisah nyata, yang sahih kebenarannya; kisah antara seorang elit di Partai PDI-Perjuangan dan sebuah keluarga kader atau simpatisan Partai Keadilan Sejahtera. Supaya lebih mudah saya sebut saja kedua tokoh dalam kisah ini Mister Kurcaca dan Sahabat Kurcaci.

***

pks-pdipdalamKisah bermula ketika, saya ditanyai seorang teman—sekaligus klien– yang juga seorang elit partai berwarna kebangsaan merah itu. “Wan, menurut kamu bagaimana caranya agar kader partaiku juga bisa punya militansi seperti PKS?” tanya Mister Kurcaca.

Oh ya, sebagai penulis (meski amatiran), saya memang harus bergaul dengan kalangan lintaspartai. Bagi saya, mereka semua sahabat. Yah, kecuali yang menggangap saya sebagai musuh.😀

***

“Wah, jika ingin jadi militan bisa saja. Tapi militansinya akan beda dengan kader PKS,” jawab saya.

“Oh ya, Mister: mengapa tiba-tiba bertanya tentang itu?” tanya saya lagi.

***

Mister Kurcaca pun bercerita kepada saya:

“Begini. Tempo lalu, aku sengaja melihat-lihat demonstrasi teman-teman dari PKS. Nah, pas bubaran, secara tidak sengaja aku melihat sebuah keluarga kader PKS berboncengan naik sepeda motor. Bapak, Ibu dan dua anak. Lengkap!

Tiba-tiba, motor itu berhenti. Si ibu (sahabat kurcaci), yang berjilbab, kemudian turun dari motor. Sambil menggendong anaknya, ia menyebarang ke tengah pembatas jalan. Kamu tahu, untuk apa? Hanya untuk menegakkan sebuah bendera PKS yang terjatuh.

Gila! Apa yang mendorong militansi semacam itu.

Penasaran, aku ikuti mereka. Hingga akhirnya sampai di sebuah toko swalayan kecil. Aku pun memarkir kendaraan di depan toko mini-swalayan itu, sambil menunggu mereka selesai berbelanja. Begitu keluar dari toko, aku sapa mereka: “Assalamu’alaikum”

Aku pun bercerita tentang peristiwa bendera jatuh tadi. Kamu tahu apa jawabannya?

“Motivasi saya surga, Pak!” jawab si Ibu.

Mister Kurcaca tak habis pikir: “Dengan tingkat militansi yang semacam itu, PKS pasti kuat sekali di dalam.”

Bagi saya, kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kedua pihak: PDI Perjuangan maupun PKS. Di mata saya, sebagai sebuah partai besar, PDI-P memang sudah saatnya membangun sebuah sistem kaderisasi berjenjang, lengkap dengan sistem meritrokasi jabatan yang tersistematis sehingga ada semacam iming-iming reward, yang bisa memotivasi setiap kader untuk menjadi militan. Tentu saja, iming-imingnya bukan surga, seperti ala kader PKS tadi.

Bagi PKS, militansi para kader akar rumput semacam itu hendaknya menjadi cermin bagi para elit, yang kini sudah menuai hasil perjuangan mereka: menjadi pejabat publik, apakah itu sebagai pejabat birokrasi (eksekutif) atau legislatif. Jangan cederai keikhlasan semacam itu.

Inget lho, keikhlasan mereka atas nama surga.

sumber:|
http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/30/kisah-kurcaca-moncong-putih-dan-kurcaci-pks/