Kalau anda seorang yang tinggal atau sering melintasi pinggiran Jakarta tentu pernah menyaksikan fenomena ini. Fenomena social yang berupa sekelompok anak-anak pelajar tingkat SMP atau SMA yang berombongan mencegat kendaraan truk atau kendaraan bak terbuka lainnya yang lewat kemudian menumpang untuk pulang. Mungkin fenomena ini  juga sedang terjadi di kota-kota lainnya. Dapat dipastikan, karena mereka menumpang tentu tentunya secara cuma-cuma alias gratis. Jumlahnya pun semakin hari saya amati semakin meningkat.

imagesphSelama beberapa waktu saya mencoba menganalisis fenomena yang saya anggap cukup menarik ini. Perilaku tersebut merupakan perilaku yang membahayakan mereka tidak saja secara fisik. Setidaknya saya menemukan tiga dugaan (hipotesis) terhadap fenomena ini.  Pertama, menyaksikan fenomena ini saya jadi ingat fenomena yang serupa terjadi beberapa dekade yang lalu, yang juga sempat saya saksikan ketika masa kecil saya di desa. Mungkin juga fenomena ini masih terjadi di beberapa daerah lain di Indonesia, terutama yang belum merasakan pemerataan pembangunan yang mamadai. Beberapa tahun yang lalu mungkin merupakan hal yang biasa menyaksikan anak-anak sekolah menumpang truk, mobil angkut barang atau bahkan numpang dokar (delman) untuk berangkat atau pulang sekolah. Setidaknya ada dua penyebab, yaitu karena ketiadaan ongkos atau karena memang tidak ada angkutan umum yang melintasi rumah mereka. Dalam kasus seperti ini kita menyaksikan, meskipun itu peristiwa biasa pada saat itu tapi dengan tegas menunjukkan betapa luar biasanya semangat pelajar-pelajar yang hidup beberapa dekade lalu.

Adakah fenomena yang sekarang terjadi ini juga menggambarkan semangat yang serupa dengan kakak-kakak kelasnya di masa lalu tersebut? Jika menilik alasannya, tentu alasan yang kedua tentang ketiadaan akses transportasi secara logis tidak bisa diterima. Hal ini mengingat fenomena ini saya saksikan di seputaran pinggiran Jakarta yang akses transportasinya sangat tersedia dengan baik. Dengan demikian kemungkinan yang dapat diterima adalah fenomena beberapa dekade lalu itu terulang oleh pelajar kita sekarang karena alasan terbatasnya ongkos yang mereka miliki. Meski tidak memungkiri pasti ada yang benar beralasan yang demikian, tetapi saya masih menyangsikan kalau sebagian besar pelajar tersebut ramai-ramai menumpang truk gratis hanya karena faktor biaya.

Kemungkinan kedua adalah mereka sebenarnya memiliki ongkos dari orang tuanya yang cukup untuk membayar angkutan karena orang tua dalam memberikan ongkos transportasi pada anaknya pasti telah menghitung baik ongkos berangkat maupun pulang. Dan faktanya fenomena serupa sangat jarang dijumpai ketika jam berangkat sekolah. Sehingga kemungkinannya adalah mereka ingin berhemat untuk keperluan sekolah mereka lainnya. Semangat seperti ini pun sebenarnya banyak dijumpai pada generasi sebelumnya. Mereka berusaha sebisa mungkin berhemat agar bisa punya tabungan demi keperluan membeli buku, atau bahkan persiapan untuk melanjutkan pendidikan. Tentu saja jika benar semangat ini yang mereka terapkan tentu sangat baik. Namun, seberapa besar keyakinan kita bahwa mereka menghemat ongkos karena alasan tersebut? Faktanya, mereka ramai-ramai berhemat dengan menumpang truk gratis, kemudian malah digunakan bermain-main sebelum benar-benar pulang. Atau bahkan mereka itu bolos sekolah kemudian naik truk gratis ramai-ramai ke tempat main play station bareng-bareng. Sekali lagi, meski tidak memungkiri bahwa pasti ada pelajar yang memang berhemat untuk menabung, tetapi kembali saya masih ragu akan kemungkinan ini.

imageshpKemungkinan ketiga adalah mereka melakukan modus yang serupa dengan modus kemungkinan kedua, tetapi dengan semangat (niat) yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan semangat kemungkinan kedua di atas. Mereka menyisihkan sebagian ongkos transportasi sekolah bukan untuk ditabung tetapi agar dapat digunakan untuk agendanya dengan teman-teman sepermainannya. Sayangnya agenda-agenda tersebut kebanyakan bukan yang bersifat konstruktif dengan pendidikan mereka, melainkan lebih pada hura-hura. Di sinilah letak kekhawatiran saya terhadap perilaku mereka ini.

Saya khawatir dengan gaya hidup hura-hura ini dan saya khawatir dengan pembelajaran mereka untuk curang melalui perilaku ini. Dengan mengakali biaya transportasi dengan menumpang truk gratis, pada dasarnya mereka mengambil keuntungan dari biaya yang seharusnya digunakan secara optimal untuk melaksanakan tugas mereka. Kalaupun bisa dihemat seharusnya digunakan untuk kegiatan yang lebih konstruktif sebagai wujud efektifitas biaya. Sedangkan mereka setiap hari meminta ongkos untuk transportasi pulang pergi sekolah secara penuh, tetapi uangnya hanya digunakan untuk berangkat saja. Bukankah ini latihan mengambil keuntungan secara ilegal alias korupsi? Akan lebih mengkhawatirkan jika mereka terus memburu “keuntungan” dengan cara seperti itu demi memenuhi fantasi mereka, bukan sekedar memanfaatkan sisa ongkos untuk kegiatan main-main. Jika ini benar, tentu bukan pembelajaran yang baik bagi calon penerus bangsa ini dan kita pantas mengkhawatirkannya. Namun, besar harapan saya agar kekhawatiran ini tidak benar.