Beberapa hari ini para pemirsa saluran televisi TV-ONE disuguhi dengan tayangan iklan layanan masyarakat yang bertema kemiskinan dan kepedulian. Iklan ini terbilang sangat bagus dan mengena dengan nurani pemirsa. Tayangan iklan ini diawali dengan cerita seorang ibu yang menderita kanker payudara akut dan anak yang menderita gizi buruk, kemudian diselingi dengan lagu kritik sosial yang dilantunkan oleh Iwan Fals. Setelah itu, ditampilkan gambar sekelompok siswa sekolah elite sedang belajar dengan tag tertulis di bawahnya yang menyebutkan bahwa tidak jauh dari sekolah tersebut ada puluhan anak jalanan yang putus sekolah. Dan disambung dengan gambar sebuah perta mewah dengan tag tertulis di bawahnya yang menyebutkan bahwa di sekitar pesta tersebut banyak orang yang meninggal kelaparan.

images9Gambaran di atas sesungguhnya memang realita yang sedang terjadi di sekitar kita, di negeri ini. Itulah profil kemiskinan yang terjadi negeri ini, cukup banyak dan sebagian besarnya hadir dan nyata kita saksikan dalam keseharian kita. Oleh karena itu, sangat tepat pesan iklan di atas agar kita mampu memberikan kepedulian pada lingkungan sekitar. Iklan ini ditutup dengan kalimat “seandainya satu orang di negeri ini mau membantu satu orang miskin, tentu masalah kemiskinan di negeri ini akan sedikit teratasi.”

Kalau iklan tadi memberikan profil kualitatif tentang kemiskinan, bagaimana dengan profil kuantitatifnya? Berdasarkan data BPS, pada tahun 2002 jumlah penduduk miskin mencapai 38,4 juta atau 18,2% total penduduk, tahun 2005 sebesar 36,1 juta atau 16,5% dan per maret 2008 sebesar 34,96 juta atau 15,42%. Lalu dari manakah data tersebut dihitung atau dengan kata lain batasan (kriteria) apa yang menjadikan orang dapat digolongkan ke dalam orang miskin dan bukan miskin? Kemudian tahukah kita berapakah batasan tersebut?

Tingkat kemiskinan di Indonesia dihitung berdasarkan angka garis kemiskinan (poverty line), yang menggambarkan nilai kebutuhan dasar minimal per bulan (basic needs approach). Kebutuhan dasar tersebut meliputi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang dihitung dari sisi pengeluaran. Kebutuhan dasar makanan dihitung dari sekitar 51 komoditi yang disetarakan dengan 2100 kkal per kapita perhari, sedangkan kebutuhan dasar bukan makanan terdiri atas perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Berikut ini data tentang garis kemiskinan tersebut:

Tahun

Poverty line (Rupiah)

Tingkat Kemiskinan (juta jiwa)

Kota

Desa

Kota

Desa

Total

Persentase

1996

42.032

31.366

9,6

24,9

34,5

17,7

1998

96.959

72.780

17,6

31,9

49,5

24,2

1999

89.845

69.420

12,4

25,1

35,5

18,2

2000

91.632

73.648

12,3

26,4

38,7

19,1

2001

100.011

80.382

8,6

29,3

37,9

18,4

2002

130.449

96.512

13,3

25,1

38,4

18,2

2004

11,4

24,8

36,2

16,7

2005

150.799

117.259

12,4

22,7

35,1

16,0

2006

175.324

131.256

14,3

24,8

39,1

17,6

2007

187.942

146.837

13,6

23,6

37,2

16,6

2008

204.896

161.831

12,8

22,3

25,1

15,4

Data diolah dari BPS (2006 dan 2008), Hirose (2004)

Dengan data ini, kita dapat mengetahui bahwa orang yang dianggap miskin di negeri ini adalah yang konsumsi bulanannya kurang dari angka garis kemiskinan, yang besarannya tidak lebih dari 200 ribu rupiah. Atau dengan kata lain, orang yang konsumsi bulanannya lebih dari 200 ribu sudah dianggap bukan orang miskin. Namun, saya tidak hendak menilai kriteria yang dipakai dalam menghitung tingkat kemiskinan tersebut, karena secara ilmiah kriteria tentunya telah dapat dipertanggunggjawabkan. Seraya berharap semoga ke depan ada solusi atas masalah ini, saya mengajak kita semua untuk merenung dan banyak bersyukur betapa kita sangat beruntung. Betapa banyak saudara atau tetangga kita yang dikategorikan sebagai orang miskin hanya mengecap beberapa rupiah yang kurang dari angka garis kemiskinan dalam kehidupannya. Atau bahkan mereka yang telah di atas garis kemiskinan pun sebagian besarnya mungkin juga hanya mengecap kurang dari 20 ribu rupiah setiap hari. Hal ini jelas terlihat ketika angka kemiskinan dihitung dengan kriteria Bank Dunia 2 USD per kapita per hari angka kemiskinan tersebut diperkirakan berlipat tiga hingga empat kali.

Dengan angka sebesar itu, mungkin sebagian dari kita berpikir, “uang segitu bisa untuk apa sekarang?”. Coba bandingkan, bagi pegawai negeri besaran angka garis kemiskinan itu mungkin hanya sekitar separuh dari besaran uang harian ketika dinas luar kantor untuk satu hari. Padahal besaran angka garis kemiskinan itu dihitung untuk biaya hidup satu bulan. Tapi  itulah realitanya, hanya dengan penghidupan sebesar itulah puluhan juta saudara dan tetangga kita hidup. Dapat kita pastikan tentunya banyak di antara mereka yang memiliki berbagai kekurangan dan keterbatasan untuk berkembang. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita banyak bersyukur, kemudian sebagaimana pesan iklan tadi seharusnya kita meningkatkan kepedulian. Setidak-tidaknya kita menunaikan hak harta yang menjadi rejeki kita dengan membayarkan zakatnya (ingat, ini baru menunaikan hak dari harta kita). Kemudian sebisa mungkin juga kita tunaikan hak  sosial dari saudara dan tetangga kita demi kemaslahatan masyarakat, melalui infaq, sedekah, pajak, waqaf, qurban, dsb.

Selain itu, hendaknya kita juga meningkatkan empati baik di depan mereka atau tidak. Dan karena komponen tersebar konsumsi masyarakat miskin adalah makanan, hendaknya kita dapat merealisasikan empati tersebut dalam bagaimana kita memperlakukan makanan. Hendaknya sebisa mungkin kita menghabiskan makanan yang terhidang dalam tiap santap makan kita dan upayakan jangan sampai menyisakan makanan. Hendaknya kita membayangkan betapa tersinggung atau sakit hatinya saudara-saudara kita warga miskin yang belum tentu kontinu merasakan nikmatnya nasi (apalagi lauk-pauk yang enak), ketika mengetahui kita yang mampu membuang-buang makanan. Semoga langkah-langkah kecil seperti ini akan melahirkan perbaikan ekonomi dan sosial ke depan. HARAPAN ITU MASIH ADA!