Pesta Demokrasi baru saja berlalu. Alhamdulillah saya masih berkesempatan untuk ikur berpastisipasi memberikan pilihan sesuai dengan hati nurani dan arahan MUI untuk memilih pemimpin yang amanah dan bertaqwa kepada Allah SWT. Terlepas dari segala hasil kita seharusnya belum kehilangan harapan untuk perbaikan ke depan, terlebih kita seharusnya bisa mendoakan yang terpilih supaya amanah. Dan tanpa mengurangi spirit pengharapan itu, saya hendak menyampaikan beberapa catatan perjalanan yang sempat saya dengar dari beberapa kalangan, terutama di kampung saya. Semoga bisa menjadi intropeksi dan bahan perbaikan ke depan.

images21

Diary 1:

Beberapa bulan sebelum pemilu, sekitar bulan November 2008, ketika pulang kampung ada sebuah kesimpulan dari beberapa warga desa yang sempat berbincang dengan saya. Kesimpulan tersebut adalah tentang bagaimana orang-orang awam ini memaknai pemilu. Wallahu a’lam, apakah karena pengetahuan yang terbatas atau karena sudah bosan dengan pemilu yang sedikit memberi perbaikan pada mereka, sebagian orang ini mempunyai pandangan bahwa pemilu tidak lebih dari sekedar momen bagi segelintir orang untuk mendapatkan kedudukan yang akhirnya berbuah kekayaan. Pada akhirnya mereka menganggap wajar bagi kontestan yang bagi-bagi uang. “Kan kalau nanti jadi (caleg/pejabat), mereka bisa dapat uang banyak, jadi wajar dong sekarang mereka memberi uang kita untuk mengongkosi agar jadi”, begitu kira-kira ungkapannya.

Tampaknya politik uang masih diterima di masyarakat. Hal yang kemudian disayangkan adalah kondisi ini tidak lantas diupayakan perbaikan oleh para parpol/caleg sebagai salah satu stakeholder politik negeri ini. Namun, malah dimanfaatkan demi kepentingan pribadi mereka. Buktinya, penguasa 40% suara DPR di TPS dusun ini adalah partai dan caleg yang menjelang pemilu kabarnya telah membantu pembangunan beberapa masjid dan mushala kampung, membelikan seragam ibu-ibu jama’ah yasinan satu dusun, dan memberikan uang saku setiap orang masing-masing 10 ribu rupiah. Juara kedua dan ketiga pun kabarnya melakukan hal yang serupa…….

image0771

Diary 2:

Sehari sebelum pemungutan suara 9 April 2009 kemarin istri mengajak untuk bersilaturahim ke rumah kontrakan pembimbing pengajiannya dulu. Maklum, mungkin istri memang sudah kangen dengan ibu sederhana itu karena semenjak istri ikut saya ke Jakarta mereka praktis belum pernah ketemu lagi. Sejenak bercakap-cakap, ibu yang kelihatan lelah ini mengungkapkan beberapa hal, terutama tentang hiruk-pikuk persiapan pemilu dan jerih payah suaminya yang menjadi caleg. Beliau bercerita bagaimana berkali-kali ibu dua anak ini berupaya membangkitkan semangat sang suami untuk tidak berputus asa menjalankan amanah partai menjadi caleg. Hal ini karena berkali-kali sang suami merasa down ketika berupaya menyambangi masyarakat untuk menawarkan visi, misi dan program, serta memperkenalkan diri sebagai caleg, tetapi berkali-kali tidak mendapatkan respon dari masyarakat.

Bukan semata-mata tidak mendapatkan respon, yang membuat down sang caleg adalah sikap sebagian masyarakat kepada sang caleg yang selalu meminta uang jika ingin dipilih oleh warga. Bahkan beberapa orang langsung menyatakan penolakan ketika sang caleg menyatakan bahwa partainya tidak melakukan cara-cara seperti itu. Salah satu kejadian yang membuat sang caleg tidak habis pikir adalah ketika Idul Adha 1429 H kemarin, beliau yang kebetulan juga aktif di LAZ (Lembaga Amil Zakat), mendapatkan amanah untuk menyampaikan kambing kurban untuk wilayah sekitar desanya. Setelah kambing disampaikan ada saja warga yang menyatakan tidak cukup hanya dengan kambing, kalau bisa ditambah uang. Padahal itu adalah murni menyampaikan amanah LAZ, bukan dalam rangka kampanye.

Puncaknya adalah sepuluh hari menjelang pemungutan suara, yang kali ini membuat sang istri yang sebelum selalu menyemangati malah down, hampir seminggu beliau lebih banyak menangis. Hal ini karena suaminya dilaporkan oleh tim sukses caleg lain dengan tuduhan politik uang. Kejadiannya adalah lagi-lagi sang caleg mendapat amanah dari LAZ untuk menyalurkan zakat kepada penduduk miskin di desa, karena panasnya suhu politik dipandang sama oleh sebagian kalangan. Ceritanya, ada seorang kepala dusun yang tersinggung tidak dibagi dana itu, padahal selain termasuk mampu kebetulan dia seorang non muslim, sehingga tidak berhak menerima zakat. Anehnya, dia tersinggung karena biasanya uang-uang dari caleg yang lain selalu disalurkan ke warga lewat dia. Benar-benar politik uang yang telah diterima secara kultural dan struktural.

Alhamdulillah. Panwaslu memutuskan bukan merupakan pelanggaran pemilu, selain juga karena bukan sang caleg sendiri yang membagikan tetapi rekannya dari warga setempat yang dimintai tolong. Lalu bagaimana perolehan suara sang caleg? Sampai sekarang saya belum tahu, yang pasti di TPS tempat saya memilih beliau memperoleh 1 suara hasil contrengan saya……

images5

Diary 3:

Kamis siang, setelah selesai mencontreng dan menyaksikan sebagian perhitungan suara, saya meluncur ke rumah mertua karena anak istri terdaftar untuk mencontreng di sana. Beberapa saat setelah sampai ada kerabat istri yang mengajak untuk menyaksikan perhitungan suara di TPS dekat rumah mertua. Tidak lama kami sampai TPS, perhitungan suara untuk DPRD Kabupaten selesai. Hasilnya peringkat pertama dan kedua diduduki oleh dua partai lama yang trend nasionalnya sama-sama meningkat pada pemilu 2009 ini.

Tampak kerabat istri ini kebingunan ketika beberapa warga memberi ucapan selamat kepada beliau karena partainya memperoleh suara terbesar kedua. Beliau bingung karena meski telah tiga pemilu menjadi simpatisan partai tersebut, beliau tidak pernah mau menjadi kader, apalagi aktif mempromosikannya. Selain itu, beliau mungkin tidak enak hati karena di dekatnya ada tetangga menjadi tim sukses caleg partai B untuk DPRD dan partai H untuk DPR RI. Tetangga ini hampir tiap ketemu selalu mengingatkan untuk tidak lupa mencontreng caleg yang disponsorinya, yang kebetulan bukan dari partai kerabat istri ini.

Saat berjalan pulang, kerabat istri ini baru mengungkapkan kebanggaannya terhadap pencapaian partai yang beliau pilih tersebut. Bukan semata-mata karena besarnya suara yang diperoleh dari TPS itu yang mencapai 20-an persen, tetapi lebih karena bagaimana suara itu diperoleh. Setengah masih takjub dapat suara sebesar itu di TPS kompleknya, beliau meyakinkan bahwa suara yang diperoleh itu murni pilihan masyarakat tanpa adanya iming-iming apapun. Hal ini karena di kala tiap hari ada partai atau tim suksesnya membagi-bagi uang, kain atau materi lainnya, partai pilihan kerabat ini tidak melakukan cara serupa. Beliau bangga dengan pencapaian ini, meski memang belum menang,…..