Tepat di atas jembatan Ngabar lampu lalu lintas sekitar 30 meter di depan menyala kuning, saya perlahan mengurangi kecepatan motor. Jika belok ke kanan 2 Km sampailah di PPM Gontor Ponorogo, jika ke kiri 1 Km sampailah di PP Walisongo. Saya mengendarai motor membonceng istri dan putri pertama kami berumur 9 bulan. Sepuluh meter di depan motor kami ada pengendara motor dengan armada yang serupa dengan kami. Beberapa saat kemudian lampu lalu lintas menyala merah hampir berbarengan dengan pengendara di depan kami melintasi zebra cross. Jadilah dia berhenti tiba-tiba di depan zebra cross, sesuatu yang sebenarnya juga sudah termasuk pelanggaran lalu lintas.

ket: gambar hanya ilustrasi

ket: gambar hanya ilustrasi

Suasana tampak biasa saja sampai beberapa saat kemudian. Berbarengan saya menghentikan motor tepat di belakang garis berhenti, tiba-tiba seseorang berlari dari pojok perempatan ke arah pengendara yang beberapa meter di depan saya tadi. Penampilan orang ini tidak lantas bisa memberi kesimpulan kalau dia orang gila, baju dan celananya yang kumal dan sebagian sobek mirip juga dengan pakaian para petani yang bekerja di sawah. Namun, perilaku orang ini yang kemudian membuat saya berkesimpulan barangkali dia orang gila. Apa kira-kira yang diperbuatnya?

Laki-laki 35 tahunan tadi berlari ke arah pengendara di depan saya dengan presisi hendak menyerang dan memukul sambil berteriak-teriak. Beruntung sebelum orang tadi mampu menjangkau, sang pengendara tancap gas belok ke kiri. Gagal menjangkau, orang tersebut masih sempat mengambil beberapa kerikil dan melemparkannya ke arah pengendara yang kabur tadi. Setelah itu dia berteriak-teriak memaki dan memarahi sepuas-puasnya. Kira-kira apa yang membuat dia marah kemudian dengan beringas hendak menyerang dan memaki-maki sang pengendara tadi? Inilah yang membuat saya bisa bilang,” (mungkin) dia memang gila, tapi ternyata masih ada hikmah yang tersisa.”

Meski terdengar tidak utuh, saya masih sempat mendengar beberapa perkataan orang (gila) tadi. Kata dominan yang paling sering muncul adalah ”polisi”. Intinya kira-kira orang ini tidak bisa menerima pelanggaran lalu lintas oleh pengendara tadi karena saya yang insyaAllah tertib sama sekali tidak mendapat perlakuan serupa, padahal cukup berdekatan juga. Mungkin sama seperti slogan sebuah iklan rokok beberapa waktu lalu, dia berpikir sang pengendara tadi ”taat kalau ada yang melihat!”. Hal ini terlihat dari sikap sang pengendara tadi yang awalnya hendak terus, tapi setelah melihat di pojok seberang ada pos polisi dia mendadak berhenti meskipun telah melewati garis berhenti. Terlepas dari tindakan yang di luar koridor ini, bahkan membuat istri saya ketakutan, tetapi ada semangat yang patut kita cermati dari orang (gila) tersebut.

Hari ini mungkin kita terbiasa menyaksikan atau bahkan melakukan sendiri berbagai pelanggaran lalu lintas. Terutama lampu merah, kita terobos jika tidak ada petugas, kita terobos jika kondisi sepi, apalagi di Jakarta ini ketika kita berhenti malah sering diklakson dari belakang untuk secepatnya merangsek ke depan. Bahkan menyaksikan pelanggaran-pelanggaran ini terutama di kampung saya, sempat terlintas dalam pikiran mungkin kebiasaan-kebiasaan ini lah yang lebih banyak akan diwarisi oleh generasi kita. Semoga tidak!

Di sisi lain, orang yang kemungkinan gila tadi memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi kita untuk berdisiplin dalam berlalu lintas. Sekali-kali mungkin kita harus malu pada semangat orang gila ini, orang yang kita anggap tidak waras ini lebih punya semangat untuk menegakkan disiplin. Sedangkan kita yang yakin masih waras, kadang-kadang masih sering memanfaatkan kewarasan kita untuk mengakali berbagai aturan.

Pelajaran kedua, saya berpikir apa yang kira-kira membuat laki-laki tadi bertukar otak dan berlagak layaknya polisi lalu lintas yang hendak menegakkan tertib lalu lintas? Sangat mungkin dia mengalami kondisi seperti itu karena obsesinya yang sangat tinggi menjadi polisi, tetapi akhirnya tidak kesampaian. Kalau ini benar, semoga hal ini menjadi hikmah bagi kita semua, ”Think Globally, Act Locally.” Boleh bercita-cita setinggi-tingginya, tetapi harus tetap realistis! Kata ulama, ”Taruh dunia di tanganmu, jangan di hatimu!” Saya jadi berharap, semoga saudara-saudara kita para caleg yang baru saja bertarung dalam pemilu legislatif kemarin dan akhirnya gagal tidak lantas mengikuti jejak ”polisi” tadi. Menjadi gila karena obsesi tidak kesampaian. Ingatlah, HARAPAN ITU MASIH ADA!