Ahad, 22 Maret 2009. Siang itu, menjelang Dzuhur cuaca masih cukup panas. Selepas Dzuhur cuaca berubah, perlahan mendung memenuhi langit, angin bertiup semakin kencang dan kilat semakin sering menyambar. Orang-orang tampak sibuk mengangkat jemuran, memasukkan kendaraan dan mencari-cari putra-putrinya yang bermain di luar. Tidak lama berselang hujan turun mengguyur Pondok Aren dan sekitarnya, deras sekali. Hujan yang sangat deras siang itu, disertai dengan angin yang menderu sangat kencang dan kilatan petir yang hampir tiap detik menyambar. Berkali-kali kutengok ke luar jendela rumah kontrakan, melihat kondisi yang mungkin memerlukan antisipasi. Bersyukur angin yang berhembus sangat kencang hanya satu arah, tampak aman bagi asbes loteng kontrakan kami yang sudah mulai usang. Tetapi tidak dengan kontrakan teman di RT sebelah, atap ruang depannya terbang tersapu angin sehingga mereka sekeluarga harus mengungsi ke rumah sebelah.

deras hujan

Beberapa waktu hujan berlangsung, tiba-tiba terdengar suara yang lebih keras menerpa atap rumah. Kutengok keluar, ternyata yang turun dari langit tidak lagi hanya berupa air, tapi juga es yang turun bersama air hujan. Untuk kesekian kalinya kutengok ke luar. Melalui jendela, terlihat tetangga yang terlihat juga memantau kondisi luar melalui jendela rumah mereka masing-masing. Terlihat di antara mereka mulutnya berkomat-kamit, entah melafalkan apa. Apapun itu, dapat kutebak bahwa mereka melantunkan permintaan kepada Dzat yang Maha Superior. Mungkin semua merasa itulah saat di mana tidak ada lagi tempat memohon perlindungan selain kepada Sang Penguasa semesta alam. Kondisi hujan yang sangat deras, angin yang sangat kencang, kilat yang terus menyambar dan es yang ikut turun, tidak memungkinkan orang untuk keluar rumah mencari perlindungan. Berdiam diri di dalam rumah pun mulai terasa tidak aman.

Mungkin inilah saat anak manusia ”MERASA KECIL DI HADAPAN ALLAH.” Terbayang dalam pikiranku, dalam kondisi seperti ini bagaimana dengan mereka para jagoan, preman, bandit, penjahat, koruptor, diktator dan para penantang Allah lainnya. Mungkinkah mereka masih bisa menyombongkan diri? Jawabannya, sangatlah mungkin, kecuali mereka sampai pada kondisi di mana mereka merasakan bahwa tidak ada lagi tempat memohon perlindungan selain kepada Sang Penguasa semesta alam, meski hanya sejenak. Ya! meski hanya sejenak, setidaknya ”SEJENAK MERASA KECIL DI HADAPAN ALLAH.”

Setelah sibuk ”menghakimi” orang lain, baru tersadar dengan kondisi diri sendiri. Bagaimana dengan saya sendiri? Ternyata tidak jauh beda. Membayangkan jika kondisi semakin memburuk, hujan berubah menjadi bencana yang mungkin akan memisahkan kita dari alam dunia. Terpikir bekal amal yang masih sangat jauh dari memadai, dosa yang menggunung dan tanggungan serta amanah lainnya yang belum tertunaikan dengan baik. Tidak sadar ternyata diri ini juga sibuk dengan permohonan-permohonan kepada Allah SWT. ”SEJENAK MERASA KECIL DI HADAPAN ALLAH.”

Alhamdulillah, masih diberi hidayah untuk mampu mengambil ibroh dari hujan yang mencekam siang itu. Semoga bisa dimanifestasikan dalam upaya perbaikan ke depan, HARAPAN ITU MASIH ADA!