warsitocKalau ditanya siapa ilmuan yang menjadi idola saya saat ini, saya akan dengan mantap menjawab Dr. Warsito, M.Eng. Pertama kali mengenal dan bertemu beliau pada Seminar “Menyelamatkan Ekonomi Bangsa”, tanggal 17 April 2007 di Hotel Bidakara Jakarta. Tentang kapasitas beliau langsung saya ketahui dalam seminar tersebut, karena beliau tampil sebagai salah satu pembicara. Selain itu, juga beberapa tulisannya juga dimuat dalam makalah dan newsletter “Indie” yang dibagikan oleh panitia seminar. Terus terang sejak saat itu saya mengagumi beliau, apalagi setelah semakin mengenal beliau dari berbagai publikasi tentang profil beliau. Bahkan, saya berharap dan berdoa semoga bisa meneladani dan mengikuti jejak beliau atau setidaknya ada di antara anak cucu saya nantinya yang dapat mengikuti jejak beliau, menjadi ilmuan dan peneliti yang menghasilkan temuan yang berguna bagi kemajuan peradaban bumi.

Siapa sebenarnya DR. Warsito, M.Eng.? Tetap saja ketika saya bertanya kepada teman-teman ternyata sangat sedikit yang mengenal beliau. Mungkin memang ungkapan yang tepat bagi beliau adalah “dipuja di negeri orang, terasing di negeri sendiri”. Oleh karena itu, berikut ini saya sampaikan beberapa tulisan tentang beliau yang saya ambil masing-masing dari situs Blog Agus Sukarno Suryatmaja, Situs DPD PKS Tangerang,  dan Tempo (Edisi. 44/XXXV/25 – 31 Desember 2006):

Dari Blog Agus Sukarno Suryatmaja (Oktober 2008)

warsitoaRubrik Tamu Kita Majalah UMMI No. 10/XIX Pebruari 2008, dengan judul DR. Warsito Peneliti Kelas Dunia yang Pantang Menyerah, membuat saya terhenyak ketika membaca sampai di paragraf : untuk teknologi yang disebut-sebut banyak kalangan sepantasnya mendapat Hadiah Nobel ini, Warsito menghabiskan waktu bertahun-tahun dimulai sejak lelaki kelahiran Karanganyar, 15 Mei 1967 ini, menjalani studi S1 Teknik Kimia  awal 90-an di Universitas Shizuoka, Jepang. Warsito, Karanganyar dan Jepang, ketiga kata inilah yang “menyetrum” fikiran saya. Saya merasa kenal dekat dekat nama tersebut : Warsito, ya..hanya Warsito saja. Ketika SMA saya mempunyai teman namanya Warsito, anak desa yang sangat bersahaja (rumahnya di lereng G. Lawu, cukup jauh dari sekolah) tetapi mempunyai otak professor. Kami, teman sekelasnya biasa menyebut dia “professor” selain professor satunya lagi. Namanya Mujiyono, sekarang jadi dokter yang mumpuni.

Saya melanjutkan membaca artikel tersebut sampai habis, dan semakin yakin dia ini Warsito teman sekelas di IPA 3 dulu. Di sana ditulis, masa kecilnya penuh dengan keprihatinan sampai-sampai mengembala kambing sambil membaca dan belajar. Saya sangat percaya dengan kisah tersebut. Di foto-foto yang ada di majalah UMMI, Warsito yang sekarang berumur 41 tahun, tampil keren dan smart beda dengan sosok lugu Warsito di 21 tahun lalu. Saya tidak mengira sama sekali, bertemu dia meskipun lewat tulisan di majalah UMMI. Tidak bosan-bosannya saya pandangi foto dia bersama anak istrinya, yang kebetulan jadi cover majalah UMMI. Asli, saya semakin bangga dengan Warsito. Saya ceritakan siapa Warsito ini kepada anak-anak saya.

Hebat benar Warsito ini, sudah bergelar doctor, namanya begitu tersohor di manca negara karena penemuannya yang menggemparkan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Selesai membaca penemuannya, saya melakukan browsing di internet dan benar, sebuah penemuan terbaru yang amat berguna bagi umat manusia.

Kenangan saya kembali ke tahun 1983 – 1986! Oh ya, jurusan saya waktu itu IPA, dimulai sejak klas 1 semester 2 (masuk ke IPA 3). Sampai dengan klas 3 teman sekelas saya tidak berubah, termasuk Warsito di dalamnya. Ketika kami di klas 1 sampai klas 2, IPA 3 terkenal paling “nakal”. Guru-guru sampai tobat mengajar di klas IPA 3. Maklum, ada si trouble maker : Sukir, namanya.

Ini contoh ulah Sukir, yang membuat resah sekolah : busi vespa milik guru olah raga kami, disumpal dengan plastik, otomatis ketika distart ya tidak bisa. Pernah juga, sepeda murid-murid yang diparkir di depan klas 2 IPS digembosin. Satu hal yang kompak kami lakukan, tetapi para guru tidak berkenan dengan perbuatan kami yaitu kami sangat hobby main bola tetapi main dengan taruhan. Seminggu bisa main bola 3 kali. Dan sering menangnya. Apa hubungan cerita kenakalan murid klas IPA 3 dengan Warsito? Dia sungguh anak yang santun, tidak pernah ikut-ikutan kepada kenakalan teman-temannya. Dalam bergaul pun dia sangat supel, suka mengajari kami mengerjakan PR matematika, fisika dan kimia.

Kenakalan kami hilang ketika masuk klas 3. Wali kelas kami, Pak Rahsananto (Alm) menasihati kami agar lebih giat belajar sebagai bekal masuk kuliah nanti. Beliau berpesan untuk menghentikan hobby main bola. Dan kami menuruti perintah beliau. Aneh bin ajaib, kami menjadi anak-anak yang manis (rupanya keinginan main bola ini kambuh kembali ketika saya dan teman-teman mengadakan reuni IPA 3, nanti akan saya ceritakan tersendiri). Masing-masing membentuk kelompok belajar. Para “professor” kami jadi pembimbing dan tempat bertanya semua soal pelajaran. Kelompok belajar saya ada 5 anak, yaitu saya, Didied, Siwi, Tarto, dan Teguh. Setiap pulang sekolah, belajar kelompok. Setiap hari!!! Tempat belajar bergilir, dan ibu-ibu kami selalu menyiapkan makanan kecil. Kumpulan soal-soal masuk perguruan tinggi negeri (PTN), mulai Proyek Perintis 1, Skalu dan Sipenmaru 1985 kami kuasai dan hapalkan.

Teman-teman di kelompok belajar lain pun demikian. Semua jadi anak manis. Nanti, ketika tes masuk PTN anak 3 IPA 3 dari 45 anak, 42 anak lolos Sipenmaru PTN termasuk Warsito, diterima di Teknik Kimia UGM. 3 anak lainnya, memilih berkarir setelah lulus SMA. Sukir memilih jadi bhayangkari negeri dan 2 teman perempuan saya lebih senang mengurus rumah tangganya, jadi ibu yang hebat.

Suatu ketika, di hari Sabtu kami diajak Warsito untuk menginap di rumahnya. Pulang sekolah kami (sepuluh anak, barangkali ada) ke rumah Warsito. Dari sekolah, naik colt (semacam angkot) sampai ke kota kecamatan Matesih. Dari kota kecamatan ke desa tempat tinggal Warsito, harus jalan kaki. Lumayan jauh. Sebenarnya dari kota kecamatan ke desa ada kendaraan, tetapi hari itu bukan hari pasaran (lima hari sekali, ada pasar hidup), maka terpaksa harus jalan kaki. Dan kami pun seperti napak tilas perjalanan Warsito, membayangkan beratnya perjalanan Warsito ke sekolah setiap hari pulang dan pergi.

Rumah Warsito sangat sederhana, orang tuanya begitu ramah menyambut kedatangan kami. Dia memperkenalkan para kambingnya kepada kami sambil memberi makan. Sore hari, kami diajak Warsito ke kamar mandinya di belakang rumah…. oh..ternyata lumayan jauh, melewati jalan setapak di tengah kebun. Kamar mandi itu adalah sungai! Tak habis-habisnya kami kagumi teman yang pintar ini. Fasilitas terbatas, tapi kok punya otak encer. Sampai rumah, nasi lengkap dengan sayur dan lauk yang masih panas sudah tersaji di atas balai-balai. Saya tidur nyenyak di rumah Warsito, udara pegunungan membuat semalaman tidak melepas selimut.

Pengalaman menginap semalam di rumah Warsito telah menginspirasi kami. Rajin belajar menjadi menu utama kegiatan kami sehari-hari. Saya masih berkomunikasi dengan Warsito sampai pertengahan tahun 1987, karena masih suka ketemu di kampus UGM. Dia juga memberitahu saya ketika dia akan ke Jepang, meninggalkan Teknik Kimia UGM. Saya pernah sekali mendapatkan surat balasannya dari Jepang, tapi surat kedua saya tidak dibalasnya, pasti karena dia sibuk sekali saat itu. Maka, putuslah komunikasi saya dengannya.

Dari Situs DPD PKS Tangerang (19 Februari 2009)

warsitobDR. WARSITO, M.Eng

Anggota Majelis Pertimbangan Pusat PKS

Caleg DPR-RI No Urut 3, Dapil Banten 3: Kab/Kota Tangerang

Ringkasan Profil

Warsito adalah salah satu dari “ 50 Tokoh” Revolusi Kaum Muda (Gatra, Edisi Khusus 2003), “10 yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo (Edisi Khusus AKhir Tahun 2006) dan juga terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” versi Majalah Gatra (Mei, 2008).

Di dunia akademisi Internasional, Warsito dikenal sebagai pioneer dalam teknologi tomografi, yaitu teknologi untuk memindai berbagai macam obyek dari tubuh manusia, proses kimia, industri perminyakan, reactor nuklir hingga perut bumi. Penemuannya yang paling spektakuler adalah tomografi volumetric 4D yang dipatenkan di Amerika dan lembaga paten internasional PTO/WO tahun 2006. Teknologi ini diperkirakan akan mengubah drastis perkembangan riset dan teknologi di berbagai bidang dari energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.

Saat ini Warsito sedang membangun sebuah institusi riset swasta pertama di Indonesia untuk mengembangkan teknologi tomografi volumetric untuk berbagai aplikasi. Meskipun masih berskala kecil, institusi yang dibangunnya mempunyai reputasi tinggi di dunia dan telah mampu menjalin kerja sama riset dengan lembga riset dan universitas kelas dunia seperti Ohio State University (OH, AS), National Natural Scince Laboratory of Japan (RIKEN, Japan), Nanyang Technology University (Singapore) dan Universiti Kebangsaan  Malaysia (Malaysia). Produk dari institusinya telah dipakai di berbagai institusi dunia termasuk Ohio State University (AS), Cambrige University (UK), B&W Company (OH, AS) dan Morgantown National Laboratory (Dept. of Energy, WA, AS).

Institusi yang dibangunnya juga telah menjadi standar bagi teknologi tomografi volumetric dan yang berkaitan yang dikembangkan di seluruh dunia dan dipublikasikan di dua jurnal internasional terkemuka yaitu Measurement Science and Technology (UK) dan IEE Sensors Journal (AS). Lembaga penelitian yang juga memberikan beasiswa dan bimbingan penelitian bagi mahasiswa Indonesia dari seluruh tanah air untuk menyelesaikan tugas akhir dengan pembinaan riset kelas dunia bekerja sama dengan lembaga-lembaga riset dunia yang terikat dalam kerjasama penelitian.

Di bidang keorganisasian, Warsito adalah salah satu pendiri dan ketua umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Selama menjabat sebagai ketua umum MITI sejak tahun 2005, Warsito telah membangun jaringan MITI di seluruh Indonesia dan luar negeri terutama MITI-Mahasiswa di kurang  lebih 50 kampus di 26 Propinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia, serta membantu pengembangan SDM mahasiswa Indonesia melalui program pengiriman mahasiswa Indonesia untuk belajar ke luar negeri. Tahun 2007 MITI bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Riyadh berhasil mengirim mahasiswa untuk program belajar S2 dan S3 sebanyak 51 orang atas beasiswa dari pemerintah Saudi Arabia. Saat ini MITI juga sedang membangun kelompok-kelompok belajar dan riset bagi pelajar dan mahasiswa di seluruh pelosok tanah air untuk membudayakan riset ilmiah dan mendorong segera terwujudnya universitas riset di universitas-universitas seluruh Indonesia.

Selain di MITI, Warsito juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Flatform Pembangungan PKS Bidang Perekonomian. Ekonomi adalah bidang kedua yang digeluti Warsito sejak tahun 1994 secara otodidak. Pemikiran-pemikirannya tentang ekonomi, iptek dan pembangungan Indonesia biasa ditemui di http://myview-indonesia.blogspot.com.

Dari Tempo (Edisi. 44/XXXV/25 – 31 Desember 2006)

Teknologi Dunia dari Pojok Ruko

tomografiIa menemukan teknologi tomografi yang membuat alat pemindai tubuh lebih murah dan amat akurat. Akan dipatenkan seperti enam penemuannya yang lain. Dari sebuah ruko sewaan di Tangerang, terciptalah teknologi berkelas dunia. Dr. Warsito, 39 tahun, sang penemu, berhasil menjungkirkan keyakinan bahwa teknologi canggih hanya bisa diciptakan di pusat riset maju. Temuan made in ruko itu telah membuat Warsito muncul di hampir semua jurnal ilmiah di dunia sepanjang Maret lalu.

Teknologi yang ditemukan pemegang enam dokumen paten ini adalah teknologi tomografi medan listrik tiga dimensi atau electrical capacitance volume tomography (ECVT). Inilah penolong para pasien miskin bila mereka harus mengecek kesehatan dengan pemindai tubuh.

Dengan ECVT, proses pemindaian tubuh bakal lebih murah dibanding CT Scan dan MRI. Caranya juga simpel. Tak perlu masuk tabung seperti pada MRI. Pasien cukup dilewatkan di pintu detektor. Akurasinya, jangan tanya. Sementara MRI menghasilkan gambar dua dimensi, citra tomografi ini tiga dimensi.

Soal resolusi gambar, sebentar lagi ketajaman MRI bakal tertinggal jauh. Warsito sedang menggodok patennya yang ketujuh, ECVT resolusi tinggi. Ia akan mengajukannya ke kantor paten dan merek dagang Amerika Serikat pada Januari mendatang.

Tak hanya pasien dan dokter yang akan terbantu dengan teknologi ini. Alat ini hadir untuk segala yang perlu dipindai, dari gas di dalam tabung, reaktor nuklir, hingga perut gunung api.

Alkisah, penemu CT Scan, A.M. Cormack dan G.N. Hounsfield, diganjar Nobel Bidang Fisiologi dan Kedokteran 1979. Pada 2003, Nobel bidang ini diberikan kepada penemu MRI, Paul C. Lauterbur dan Peter Mansfield. Warsitokah penerima Nobel berikutnya? Dia tersenyum kecil. Ucapnya, “Itu mimpi.”

Bukan tanpa alasan jika Warsito memilih menyiapkan ECVT di rukonya. “Saya minta hak eksklusif untuk bisa mengembangkannya tanpa terikat dengan Universitas Ohio,” katanya. Ia memang pernah intensif menggunakan laboratorium Ohio State University, AS, saat bekerja sebagai peneliti di sana sejak 1999.

Pilihan ruko ini penuh risiko. Suatu kali petir menghanguskan satu komputernya. Lalu, laptop dan sebuah komputer lainnya jebol karena tak tahan menjalankan simulasi tomografi. Seluruh dokumentasi risetnya lenyap. “Satu minggu saya shock, tidak keluar kamar,” ujarnya.

Ketidaktergantungan pada kampusnya membuat anak petani dari Solo ini dengan enteng menampik tawaran untuk memperpanjang kontrak pada Juli lalu. Ia bahkan bisa pulang membawa paten tomografinya. Kini ia sedang menyiapkan pusat riset dan tempat produksi tomograf tiga dimensinya di Tangerang, bekerja sama dengan investor dalam negeri. (Sumber : Tempo (Edisi. 44/XXXV/25 – 31 Desember 2006))

About these ads