Ada pengalaman menarik yang saya peroleh pada Ramadhan dan Lebaran tahun ini. Berbeda dengan dua lebaran tahun sebelumnya, di mana asisten rumah tangga saya tidak mudik, jauh-jauh hari dia sudah berujar pingin mudik pada lebaran tahun ini. Tentu saja kami tidak bisa melarang, meskipun di satu sisi kami bingung bagaimana dengan dua putri kami yang baru berusia 3 tahun dan 5 bulan jika pengasuhnya mudik. Sedangkan abi-nya (saya) sudah kehabisan cuti tahunan dan ummi-nya (istri saya) seorang tenaga medis yang tetap harus bekerja, tak peduli sedang takbir lebaran.

Alhamdulillah-nya, sejak awal Ramadhan tiket mudik-baliknya sudah kami dapatkan relatif sesuai rencana. Tiket mudik dapat untuk tanggal 25 Agustus, barengan hari terakhir saya masuk kerja. Sedangkan tiket balik dapat untuk tanggal 2 September, hari terakhir libur cuti bersama saya. Jadilah skenarionya, ketika asisten rumah tangga pulang satu minggu tersebut, saya lah yang akan bertugas mengasuh dua anak saya. Sedikit lega lah meskipun belum cukup karena istri masih saja khawatir bagaimana nanti saya akan mampu mengasuh dua balita sekaligus. Terutama si kecil, karena praktis sejak lahir bulan Maret lalu hanya saat-saat weekend-lah saya pernah memegang si kecil. Ditambah dengan si kakak yang baru selesai masa jealous atas kehadiran adiknya dan beralih ke masa gemes-gemesnya pada si adik. Saya sendiri berusaha optimis dan meyakinkan semuanya, saya pasti bisa!

Mulailah tugas “besar” itu berjalan, hari pertama istri jadwal tugas sore (jam 14.00 – 21.00). Sepanjang sore, beberapa kali telepon berdering dari neneknya di kampung bertanya kabar pengasuhan cucunya, demikian juga dengan istri saya di sela-sela tugasnya. Dan jawaban saya selalu sama, “Aman”, karena memang semua berjalan lancar. Alhamdulillah, mengantarkan tidur siang si adik dan lanjut kakaknya, memandikan si adik dan lanjut kakaknya, menyiapkan susu si kecil, menyiapkan makan si kakak dan buka puasa saya sendiri, ganti pokok dan baju, mengatur sela waktu untuk keperluan sholat dan seterusnya hingga kembali tidur malamnya semua sukses saya lewati. Ternyata si adik sangat mengerti kondisi abi-nya dan si kakak sangat kooperatif membantu abi-nya.

Dua hari berikutnya istri masih masuk sore, dilanjutkan sehari masuk pagi, dan terakhir dua hari masuk malam, semua bisa dilalui dengan lancar. Dan entah hari ke berapa persisnya saya tidak tahu, istri saya diam-diam memberikan titel “Super Dad” pada saya melalui status akun facebook-nya. Terima kasih sayang, terharu atas penghargaan ini. Padahal masih sedikit item yang mampu saya lakukan selama masa tugas itu, lebih hanya pada mengurus anak-anak saja dan lainnya belum bisa dikerjakan. Pingin rasanya bisa membantu melakukan tugas rumah lainnya, seperti membersihkan rumah, dapur dan peralatannya, cuci-setrika  baju, dan sebagainya. Realisasinya hanya beberapa piring yang sempat tercuci, hanya beberapa sisi rumah yang sempat tersapu, dan tidak ada satu pun cucian yang bisa saya kurangi. Akibatnya, istri yang sampai rumah dalam kondisi sudah capek masih harus mengerjakan semuanya. Betapa capeknya engkau sayang?

Maafin suamimu sayang, belum bisa banyak membantu! Menunggu ada kesempatan lagi untuk memperbaiki rapor “Super Dad”-mu ini. Untuk para suami dan ayah lainnya, ternyata mengurus rumah itu tidak mudah, jadilah kita orang yang lebih menghargai istri (dan juga asisten rumah tangga) kita.

diposkan untuk:

Lanjut cerita masih di masjid sebelumnya, tetapi pada waktu yang berbeda. Ramadhan kemarin seorang ustadz dalam kultum tarawihnya memaparkan tentang kecenderungan aneh umat islam dalam beramal, terutama amalan sunah dan makruh. Untuk yang sunah, karena definisinya dikerjakan mendapat pahala dan ditinggalkan tidak apa-apa, maka banyak yang tidak mengerjakan amalan sunah. “Kan nggak apa-apa?!” begitulah kira-kira alasannya, memilih untuk tidak repot mengerjakan dengan konsekuensi tidak mendapatkan apa-apa.

Kemudian untuk yang makruh, karena definisinya dikerjakan tidak apa-apa dan ditinggalkan mendapat pahala, maka banyak yang beramai-ramai mengamalkannya. “Kan nggak apa-apa?!”, kembali menjadi alasannya, kali ini memilih untuk sibuk mengerjakan meskipun tidak mendapatka apa-apa. Lalu sang Ustadz mengakhiri dengan pertanyaan, “bukankah kalau serba tidak mendapatkan apa-apa, itu artinya melakukan sesuatu yang sia-sia? Padahal, ada hadits yang menyebutkan bahwa salah satu tanda kebaikan seorang muslim adalah menghindari sesuatu yang sia-sia?” Dan, “bukankah motto seorang muslim itu “fastabiqul khairat”, tapi kok malah pada menghindari pahala?”.

Mendengar ceramah tersebut, saya merasa tersindir dan memang benar juga paparan sang ustadz. Lalu apa masalahnya, padahal kan kita beramal seperti itu juga sudah berpatokan pada definisi hukumnya. Adakah yang salah atau kurang jelas dengan definisi hukum-hukum beramal dalam islam yang selama ini diajarkan kepada umat? Sejenak saya jadi teringat pelajaran yang pernah disampaikan guru saya waktu SD dulu, yang memberikan defisini sebagai berikut:

  1. Wajib: apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan mendapat dosa;
  2. Haram: apabila dikerjakan mendapat dosa, dan apabila ditinggalkan mendapat pahala;
  3. Sunah: apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak apa-apa (tidak mendapat dosa);
  4. Makruh: apabila dikerjakan tidak apa-apa (tidak mendapat dosa), dan apabila ditinggalkan mendapat pahala;
  5. Mubah: apabila dikerjakan tidak apa-apa (tidak mendapat dosa), dan apabila ditinggalkan juga tidak apa-apa (tidak mendapat dosa).

Sejenak merenung saya pikir tidak ada masalah dengan definisi, sudah cukup jelas dan tidak ada yang salah tentunya. Jadi barangkali adalah selama ini kebanyakan kita mengambil sudut pandang yang kurang tepat dalam memahami hukum beramal, yaitu mengambil yang serba tidak mendapatkan apa-apa dalam beramal. Oleh karena itu, mungkin kita perlu untuk mengubah sudut pandang kita dalam memahami definisi yang sudah jelas tersebut.

Lalu pemahaman seperti apa yang akan mengubah cara kita dalam beramal? Pangkal pemahaman kita sebelumnya yang terlalu berhitung pahala-dosa itu lah yang perlu kita geser. Mengenai hal ini, saya teringat lagu anak-anak kesukaan anak saya yang berjudul “Hukum dalam Islam” yang kurang lebih syairnya sebagai berikut:

Allah memberi kabar, hidup akan bahagia

bila kita semua ikuti aturannya

Allah sayangi kita, dengan sampaikan pesan

mana saja yang boleh, mana yang tidak boleh

Yang wajib, lakukan saja janganlah ditinggalkan

Yang haram, tinggalkan saja janganlah dilakukan

Yang sunah, lakukan saja

Yang makruh, tinggalkan saja

Yang mubah, diperbolehkan asal jangan berlebihan.

Jadi praktis saja, sunah itu lakukan saja dan makruh tinggalkan saja, tanpa perlu kita berhitung-hitung mengenai  pahala-dosanya. Sebagai contoh, mari kita coba simulasikan pemahaman praktis ini pada 2 (dua) amalan berikut ini:

Sholat Fardhu Berjama’ah di Masjid (khususnya bagi Laki-laki)

Fenomena kita hari ini adalah waktu sholat jum’at (dan juga sholat Ied) masjid penuh sesak bahkan luber keluar, tetapi jika sholat lima waktu sepi sekali. Hal ini karena umumnya kita meyakini bahwa sholat lima waktu di masjid hukumnya “hanya” sunah, yang apabila tidak dikerjakan tidak apa-apa. Secara umum, sebenarnya terdapat 2 (dua) pendapat mengenai sholat lima waktu di masjid bagi laki-laki. Sebagian ulama berpendapat hukumnya sunah, sebagian lainnya berpendapat wajib. Tanpa perlu berdebat panjang, terserah mana yang kita yakini sesuai dalil yang mendukung, tetapi marilah kita amalkan hukum yang kita yakini tersebut secara tepat. Termasuk bagi yang meyakini hukum sholat berjamaah di masjid yang lebih ringan, yaitu sunah dengan “lakukan saja” dan tidak berlama-lama meninggalkannya dengan alasan tidak apa-apa. Saya yakin dengan ini, langkah kita untuk sholat berjamaah akan lebih ringan dan masjid kita akan lebih ramai sepanjang waktu.

Merokok

Belum lama ini masyarakat Indonesia disibukkan dengan debat sengit setelah Majelis Tarjih PP Muhammadiyah yang berkesimpulan bahwa hukum merokok haram dan MUI yang menaikkan status hukum merokok dari makruh menjadi haram (meskipun baru terbatas pada anak-anak, ibu-ibu dan tempat umum). Sebagian pihak bahkan mengecam kedua lembaga tersebut dan bersikukuh hukumnya sebatas makruh. Kembali saya mengajak, tanpa perlu berdebat panjang, terserah mana yang kita yakini sesuai dalil yang mendukung, tetapi marilah kita amalkan hukum yang kita yakini tersebut secara tepat. Termasuk yang meyakini hukum merokok yang lebih ringan, yaitu makruh dengan “tinggalkan saja” dan tidak berlama-lama mengamalkannya apalagi sampai menjadi kebiasaan. Saya yakin jika ini yang diamalkan, lama-lama debat status hukum merokok ini akan hilang karena pangkal perdebatannya terkait kesehatan, lingkungan sekitar dan ekonomi keluarga juga akan menghilang dengan sendirinya. Apalagi bagi seorang yang bertitel ustadz/kyai/pemuka umat, masa pemuka umat hobinya yang makruh, akan seperti apa umatnya?

Wallahu’alam bi Shawab dan selamat mencoba!

diposkan untuk:

Setelah pada tulisan sebelumnya saya berbagi cerita sedih, kali ini saya akan berbagi kabar gembira dari pengalaman i’tikaf ramadhan saya. Kabar gembira bagi anda para pemuda, terutama para bujangan yang sudah ngebet menikah dan masih kebingungan mempersiapkan calon istri atau calon mertua atau calon pembiayaan nikah. Kesimpulan awalnya, wahai pemuda yang sudah ngebet nikah, cintailah masjid karena bisa jadi di sana anda akan menemukan calon mertua/istri yang diharapkan.

Ceritanya bermula ketika ba’da asar tanggal 25 Ramadhan, waktu itu Haji Muhammad yang amil zakat di masjid tersebut sedang mandi, sehingga saya dimintai tolong untuk menjaga meja Ziswaf sebentar. Belum lama saya duduk di sana, datanglah memasuki halaman masjid seorang bapak dengan dibonceng putrinya yang berjilbab besar dengan jaket bertuliskan Rohis Jurusan Farmasi salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Kedatangan bapak tersebut adalah untuk membayar zakat fitrah untuk seluruh keluarga dan tanggungannya, serta sejumlah zakat maal. Jadilah saya berkenalan dan yang menerima harta zakat tersebut.

Malam harinya sang bapak kembali ke masjid untuk menunaikan sholat tarawih. Seperti laiknya orang yang sudah saling kenal, kami pun saling sapa dan berbasa-basi sebentar. Begitu juga pada hari-hari dan malam-malam berikutnya. Sampai pada sore hari tanggal 28 Ramadhan, ketika saya membantu petugas amil menyiapkan pembagian zakat, bapak tersebut kembali datang ke masjid untuk membayarkan zakat maal yang kemarin belum masuk hitungan. Setelah selesai membayar, sang bapak memanggil saya dan bertanya, “mas, udah nikah belum?”. Santai saja saya jawab, “wah, anak saya sudah mau dua, pak”. Sang bapak langsung menukas, “wah, saya telat mas, kalau belum nikah mau saya jodohin dengan anak saya yang kemarin itu. Menurut saya pemuda yang cinta masjid, pantas dijadikan teladan untuk anak saya.” Saya pun kembali mempertegas dengan mengulangi jawaban saya sebelumnya, “anak saya sudah mau dua, pak”.

Begitulah pengalaman i’tikaf yang saya anggap merupakan kabar gembira meskipun bukan bagi saya sendiri karena saya yakin belum mampu berbuat adil jika punya istri kedua. Melainkan bagi para pemuda yang sudah ngebet nikah dan mendambakan calon istri sekaligus calon mertua yang baik. Bagaimana tidak, anda yang lagi ngebet nikah (dan biasanya sedang bingung) malah dapat tawaran nikah langsung dari calon mertua. Kemudian dengan ilustrasi sekilas pandang di atas, bukankah sudah menunjukkan sebagian ciri-ciri calon istri sholehah idaman anda?

Dan bagaimana anda tidak nyaman, jika calon mertua yang menawari anda calon istri adalah sosok yang lebih mengutamakan faktor kecintaan anda pada masjid dibanding faktor-faktor lainnya. Sekedar informasi, bapak ini belum pernah bertanya mengenai pekerjaan dan tempat kerja ataupun silsilah keluarga, tetapi sudah langsung hendak mempercayakan estafet pengasuhan anaknya.

Ternyata di masjid anda bisa mendapatkan semua items jodoh yang diharapkan. Dan momen i’tikaf di atas hanya lah satu titik cara mencintai masjid, masih ada momen di sepanjang tahun bagi kita untuk mencintai dan memakmurkan masjid. Kesimpulan akhirnya, wahai pemuda cintailah masjid.

diposkan untuk:

Lebaran tahun lalu karena alasan tertentu saya tidak bisa mudik ke kampung, padahal masih memiliki sisa cuti tahunan yang cukup banyak. Selalu ada hikmah tentunya, saya malah bisa memanfaatkan cuti untuk i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Saya beri’tikaf di masjid dekat kontrakan rumah di perbatasan Kebayoran Lama – Pondok Aren. Ada banyak hal yang saya peroleh dari i’tikaf, baik spiritual maupun sosial, juga baik yang senang maupun yang sedih. Dalam kesempatan ini saya ingin berbagi sesuatu yang saya anggap menyedihkan.

Memasuki hari ke-29, Panitia Ziswaf masjid menjadwalkan pembagian hasil pengumpulan Ziswaf kepada para mustahik. Hingga pukul 16.30 pembagian masih dilayani, meskipun awalnya dijadwalkan pukul 14.00 hingga waktu asar saja. Waktu itu saya sedang santai di teras depan masjid, ketika, seorang ibu berjalan memasuki halaman masjid dari pintu samping masjid. Bersamaan juga dari arah pintu depan halaman masjid berlari seorang anak kecil kira-kira 3-4 tahun umurnya. Ternyata dia adalah anak si ibu tersebut yang kebetulan sedang bermain di depan masjid, yang akhirnya tidak diajak masuk karena tidak memakai sandal.

Hal pertama yang mengejutkan saya adalah ketika si ibu berjalan keluar dari dalam masjid seraya memasukkan amplop ke dalam saku bajunya. Sang anak yang menunggu di luar langsung memberi sambutan dengan berkata, “Mak, ke H*****i (nama swalayan terdekat), yuk!“. Saya terkejut dengan daya nalar anak ini. Sekecil itu sudah tahu kalau Ibunya keluar dari dalam masjid membawa amplop berisi uang. Dan saya cukup prihatin, sekecil itu sudah bisa menyimpulkan kalau punya uang asyiknya ya langsung jajan ke swalayan.

Meskipun memang anak-anak pasti suka jajan, tetapi melihat segenap ekspresinya tetap saja ini adalah pola hidup konsumtif yang terlalu dini. Bukan salah si anak tentunya, karena dia hanyalah produk lingkungannya. Ada dua kemungkinan, pertama, keseharian keluarga anak ini mungkin penghasilan hari ini untuk makan hari ini. Sehingga yang dilihat si anak adalah begitu dapat uang langsung belanja. Jika benar kemungkinan ini, agak melegakan meskipun kita tetap harus prihatin dengan fenomena kemiskinannya. Namun, memperhatikan referensi swalayan yang disebutkan si anak, saya menjadi tidak yakin itu terjadi karena semata-mata kemungkinan pertama. Ataukah kemungkinan kedua, keseharian lingkungan anak ini adalah masyarakat konsumtif yang ketika ada sedikit uang langsung ke shopping center?

Keterkejutan saya tidak berhenti sampai di situ saja. Begitu sang itu menolak permintaan sang anak dan bergegas pulang, sang anak kembali berlari ke depan bermain di halaman bawah masjid. Sesaat kemudian terlihat sebuah mobil mengambil puter balik di halaman tersebut. Apa yang dilakukan bocah 3 tahunan itu? Dari jarak 40-an meter, saya bisa dengan jelas melihat bahasa tubuh dan mendengar seluruh perkataannya. Dengan mahirnya dia melipat dan melambai-lambaikan masing-masing lengannya, seraya berkata “trus..kanan…trus...!“. Begitu mobil telah berputar sempurna, si anak berlari ke samping kaca sopir, seraya menengadahkan tangan memungut upah jasa. AllahuAkbar, kembali keprihatinan saya memuncak. Anak sekecil itu sudah tahu kalau ada mobil berhenti, belok atau putar balik di manapun dapat dimanfaatkan sebagai peluang mendapatkan uang dengan cara yang mudah.

Ini bukan persoalan naluri bisnis si anak, tetapi lebih ke pikiran singkat mencari uang. Kembali ini bukan salah si anak, melainkan lingkungan lah yang telah membentuknya sedini ini. Semua pasti tahu, di kota metropolitan Jakarta ini, kegiatan “polantas mandiri” ini dapat ditemui hampir setiap belokan atau putaran. Sebagian memang bermanfaat bagi warga, tetapi tidak jarang yang agak mengganggu dan terkesan “iseng-iseng berhadiah”. Dan tampaknya yang terakhir inilah yang sehari-hari dipelajari oleh si anak tersebut, sehingga ketika melihat ada mobil hendak putar balik, kontan nalurinya itu muncul. Jika ini benar, saya sangat khawatir jika beberapa tahun ke depan anak itu akan berkeliling toko/warung tiap sore dengan membawa kencrengan atau mini tape, memakai, berdandan dan berdendang layaknya wanita. Ini karena pemandangan ini lah yang setiap sore disaksikan anak-anak di seputaran Jakarta sekarang, para laki-laki perkasa yang dengan mudah mendapatkan uang dengan bergaya seperti di atas.

Semoga tidak!! Semoga tidak!! Semoga tidak!! Amiiinn!!

diposkan untuk:

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.